Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Oleh : Aditya Gumantan

Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba digital, ketika jempol tangan lebih atletis daripada kaki karena lebih sering dipakai mengejar sinyal WiFi, permainan tradisional justru tampak seperti artefak purbakala. Ia dikagumi banyak orang, namun orang banyak itu malah tak mau menyentuhnya. Kini anak-anak lebih mudah menghafal letak huruf dan angka pada gawai dibandingkan dengan permainan bedil locok, kitiran, bahkan permainan upih ngisut yang dulu banyak dikenalkan dan dimainkan anak-anak pada zamannya. Dahulu anak sibuk besok akan bermain apa lagi, dibanding merengek meminta uang jajan lebih karena paket internetnya sudah habis. Tentu saja itu sebelum modernisasi muncul dengan serba-serbi digitalnya. Dahulu mereka tidak butuh kuota, mereka hanya butuh lapangan yang luas sambil mencari stategi jitu untuk memenangkan pertandingan dibesok harinya. Waktu bertanding bukan lagi dari ukuran waktu pada jam tangan, akan tetapi suara adzan magrib dari surau sebagai batas waktu permainan selesai.
Perlu dipahami bahwa permainan tradisional bukan hanya sekedar aktivitas fisik atau sekedar pengisi waktu luang. Permainan dan olahraga tradisional bak sebuah kurikulum pendidikan. Ia diciptakan dalam lingkungan sosial dengan memunculkan aspek filosofis dan nilai-nilai yang ada dalam permainan itu sendiri. Melalui permainan tradisional, anak-anak tidak hanya belajar dalam kerangka aspek kognitif. Di sini mereka juga belajar mengembangkan aspek psikomotor yang memunculkan keterampilan gerak dalam setiap permainan, serta memberikan aspek afektif seperti memunculkan nilai kedisiplinan, kerjasama, kerja keras dan semangat pantang menyerah. Hari-hari ini, kompleksitas pedagogis kebudayaan semacam itu tentu sudah sangat susah ditemui dalam lingkungan sosial yang sudah terbentuk dalam era anak modern.
Dari sudut pandang olahraga, permainan tradisional adalah bentuk latihan paling jujur. Tidak ada pelatih galak, tidak ada stopwatch digital, dan jelas tidak ada sponsor minuman energi. Namun, justru di situlah letak keasliannya. Anak-anak berlari bukan karena target kalori, tetapi karena kegembiraan. Mereka berkeringat bukan karena program latihan, melainkan karena semangat kompetisi yang lahir secara alami. Tanpa disadari, mereka sedang membangun daya tahan, koordinasi, dan kecepatan. Hal-hal yang kini dijual mahal dalam dunia olahraga modern.
Pada akhirnya kita harus berkata jujur, di era sekarang permainan tradisional kalah terhomat dan pamor. Bukan karena tidak menarik, tetapi anak lebih banyak mengenal selebgram dan artis tiktok. Orang tua banyak beranggapan memberikan gawai di saat anak sedang menangis itu merupakan obat manjur, padahal orangtua sedang melakukan sebuah kebiasaan yang mungkin dapat buruk apabila sudah tidak terkontrol dengan baik. Dari sini kita belajar bahwasannya anak bukan tidak mau memainkan permainan tradisional, tetapi anak tidak tahu dan tidak mengenal permainan itu sendiri.
Dari sisi kebudayaan, permainan tradisional adalah cermin nilai-nilai masyarakat. Ia mengajarkan nilai gotong royong, sportivitas, dan solidaritas yang sekarang sering kita bahas panjang lebar dalam seminar, tapi lupa dipraktikkan. Permainan seperti tarik tambang bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling kompak. Sayangnya, filosofi ini kadang hilang ketika kita lebih sibuk menarik keuntungan daripada menarik kebersamaan.
Lebih jauh lagi, permainan tradisional adalah identitas. Ia adalah bahasa tubuh sebuah budaya. Ketika permainan itu hilang, yang hilang bukan hanya aktivitasnya, tetapi juga nilai, cerita, dan bahkan cara
berpikir suatu masyarakat. Kita mungkin masih bisa membangun stadion megah, tetapi tanpa akar budaya, olahraga akan kehilangan ruhnya seperti tubuh atlet tanpa jiwa kompetisi.
Kupasan yang menarik adalah bagaimana permainan tradisional bisa direposisi dalam konteks modern. Apakah harus dibuat aplikasi? Bisa saja. Tapi jangan sampai esensinya hilang. Jangan sampai gobak sodor berubah jadi sekadar animasi tanpa tawa, tanpa peluh, dan tanpa teriakan khas yang kadang lebih nyaring dari peluit wasit. Modernisasi seharusnya menjadi jembatan, bukan pengganti.
Pada akhirnya, “Raga, Rasa, dan Tradisi” bukan sekadar rangkaian kata indah. Ia adalah pengingat bahwa olahraga tidak hanya soal tubuh, tetapi juga soal makna. Permainan tradisional mengajarkan bahwa gerak bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan ekspresi budaya. Dan di tengah dunia yang semakin individualistis, mungkin kita perlu kembali ke permainan lama bukan untuk bernostalgia semata, tetapi untuk belajar kembali menjadi manusia yang utuh.
Karena siapa tahu, di balik permainan sederhana yang dulu kita anggap sepele, tersimpan filosofi hidup yang lebih relevan daripada algoritma apa pun.
Tentang Penulis: Aditya Gumantan adalah akademisi olahraga yang berfokus dalam bidang permainan & olahraga tradisional dan fundamental gerak. Ia adalah alumnus program studi S1 Pendidikan Jasmani, Universitas Lampung, dan melanjutkan keilmuan olahraga pada program studi S2 Pendidikan Olahraga serta S3 Pendidikan Jasmani, Universitas Negeri Jakarta.
nice…