Siaran Rina

Oleh : Fauzi

Ponsel Rina tegak berdiri di atas meja. Aplikasi siaran langsung salah satu media sosial menyala di sana, menampilkan wajahnya yang kelabu. Sekarang ini, pada detik ini, Rina sudah merencanakan sesuatu. Semua yang ia butuhkan telah tersedia di kamar rumah kontrakannya: tali tambang dan kursi kecil. Yang diperlukan wanita itu hanya tekad. Soal tali temali, ia sudah mahir. Mengikat tali tambang ke kusen pintu rumah kontrakannya tentu bukan perkara sulit. Selanjutnya Rina tinggal naik ke kursi kecil itu, lalu…

Rina terdiam. Tubuhnya gemetar. Air mata mulai merembes di kedua matanya.

Siaran langsung di ponselnya masih menyala. Kolom komentar dibanjiri aneka jenis komentar.

Kak, kamu mau ngapain?!

Ni orang mau bundir gila! Panggil damkar woyy!!

Alah, caper lu ya. Dasar tukang fitnah, kalau mau mati, yaudah sana kalo berani.

Dan masih ada banyak komentar lainnya dari para warga dunia maya. Rina membaca semua itu dengan matanya yang bengkak. Komentar-komentar itu terasa tidak penting bagi Rina. Karena memang, segalanya tidak penting lagi.  Perlahan, dia bangkit berdiri.

                                                            _

Sapri baru pulang dari tempat kerjanya dan sedang bersantai di warung kopi ketika temannya mengirim sebuah tautan siaran langsung yang katanya menarik. Pria itu mengira akan melihat siaran wanita cantik yang sedang berjoget seperti biasa, tapi betapa kecewanya Sapri saat yang dia lihat di layar ponsel cuma wanita murung di ruangan yang agak remang. Segera saja dia mengirim pesan kepada temannya itu.

Cewek diem doang begini dibilang menarik, apaan coba. Mana kayak habis nangis lagi dia nih, pasti baru diputusin pacar. Buat apa gua nonton orang patah hati.”

Lihat dulu itu siapa! Terus di belakangnya ada apaan, tali sama kursi!” balas temannya.

Sapri pun melirik username akun itu: @rinaatuu. Lalu matanya beralih ke sesuatu di belakang gadis itu. Benar, ada tali yang tergantung di kusen pintu dan kursi kecil di sana. Sapri langsung sadar. Matanya terbelalak, rokok yang sudah mau habis di mulutnya jatuh ke lantai. Hah, Rina pemenang duta pariwisata itu mau bunuh diri?!

Namun rasa kaget itu cepat padam. Bagi Sapri, hidup orang lain tidak pernah benar-benar menyentuh hatinya. Semua yang viral hanya hiburan. Dan hidup Rina, baginya, cuma cerita lain yang bisa ia tonton sambil ngopi.

                                                            _

 Ketika mendengar ada yang mau gantung diri dan disiarkan langsung di media sosial, Sara mengira itu hanya lelucon belaka. Sebuah trik murahan untuk menarik views dan gift dari penonton yang penasaran. Langit sudah hampir gelap, yang Sara inginkan hanyalah istirahat total karena energinya terkuras setelah habis bertemu dosen pembimbing skripsi hari ini. Namun begitu matanya melirik ponsel ibu-ibu di sebelahnya yang dari tadi sibuk mengoceh tentang orang yang mau bunuh diri itu, Sara langsung terlonjak sampai kepalanya terbentur langit-langit angkot.

Pak! Nyetirnya lebih cepat lagi dong!” katanya sambil menepuk kursi si supir. “Saya berhenti di Gang Merpati, ya.

Siap!” sahut si sopir mengacungkan jempol, lalu dalam sekejap tancap gas.

Sara tidak peduli pada protes penumpang lain yang kaget dan takut oleh laju kendaraan yang tiba-tiba bertambah kencang. Satu dua orang merapal doa meminta keselamatan. Sambil mengambil ponselnya, Sara merapal doa yang sama. Doa keselamatan. Begitu khusyuk diucapkan sepenuh jiwanya. Bukan untuk dia,  tapi untuk temannya yang kini perlu segera diselamatkan.

                                                            _

Semenjak memulai siaran langsung itu, ponsel Rina tidak pernah berhenti berdering. Semua kenalannya berusaha menghubunginya. Rina bergeming. Dia tidak peduli dengan semua panggilan itu. Tidak juga pada komentar-komentar yang membanjiri siaran langsungnya, entah itu yang bersimpati atau yang menyemangatinya untuk segera melakukan aksi. Hati kecil Rina justru berharap seandainya orang-orang itu sama peduli kepadanya beberapa waktu belakangan, pasti hari ini akan berbeda.

Seandainya orang-orang percaya kepadanya dan bukan kepada kadal busuk yang membuatnya sampai ke titik ini.

Ingatan Rina melayang ke belakang, ke awal mula hidupnya hancur berantakan. Mimpi-mimpinya terpaksa berhenti di jalan. Padahal, tahun ini seharusnya ia bisa wisuda seperti teman-temannya. Padahal, dia sudah mendapatkan mahkota duta pariwisata kota dan seharusnya tengah bersiap berangkat ke Jakarta. Padahal, seharusnya ia bahagia selayaknya seorang wanita merdeka.

Tapi sekarang itu semua tidak penting, tidak ada lagi sesuatu berharga yang Rina pertahankan. Bertepatan pada beberapa bulan lalu, ketika miliknya yang paling berharga direnggut tanpa ia bisa mencegahnya.

Nama pria itu adalah Baskara. Seorang pengusaha muda ternama yang mendekati Sara setelah wanita itu pemenang duta pariwisata kota. Rina melihat pria itu sebagai seorang yang pantas mendekatinya. Baskara kaya, bisa dibilang tampan, dan sering terlihat di berbagai acara populer termasuk yang diselenggarakan organisasi agama. Pria itu banyak disukai di masyarakat, pengikutnya di media sosial menyentuh angka ratusan ribu. Senyumnya yang khas bertebaran, terdengar kabar dia akan mencalonkan diri menjadi walikota tahun depan.

Rina tidak tahu, semua yang diperlihatkan Baskara hanyalah cangkang.

Seiring waktu, hubungan Rina dan Baskara semakin dekat, di mana kepercayaan Rina kepada Baskara semakin erat. Saat itulah Baskara mulai nekat, keinginan bejatnya yang selama ini tersembunyi  mendapat tempat yang paling tepat untuk mendarat.

 Sampai suatu malam, Rina terbangun di sebuah kamar hotel dengan kondisi pakaian tidak lengkap. Ia tidak ingat apa-apa selain Baskara yang memberi sebotol minuman manis di mobil sehabis mereka makan di restoran. Rina menjerit saat menyadari apa yang terjadi, tapi sudah terlambat. Baskara mengancam akan menyebarkan foto-fotonya yang tidak pantas ke media sosial kalau Rina berani macam-macam.

                                                            _

Di warung kopi, Sapri menatap penuh minat pada layar ponselnya. Ia masih ingat kehebohan beberapa bulan lalu saat foto-foto seksi duta pariwisata kota yang sedang di atas kamar tidur tersebar di dunia maya. Bahkan Sapri sempat menyimpan beberapa foto itu di galeri ponsel, berjaga-jaga seandainya mereka hilang dari peredaran. Foto-foto itu muncul diiringi narasi bahwa Rina punya job sampingan menemani laki-laki. Sapri langsung mendatangi akun media sosial Rina, berpikir betapa beruntung setiap orang berduit yang mendapat kesempatan ditemani oleh wanita secantik duta pariwisata kota.

Lalu Sapri terkekeh saja begitu membaca klarifikasi si duta pariwisata di media sosial yang menyatakan dirinya dijebak. Sapri berpikir, Rina cuma takut dan panik belaka sebab citranya sebagai maskot pariwisata lenyap. Bahkan Sapri sempat menulis sesuatu di kolom komentar, sekedar meluapkan isi kepalanya yang gatal.

Ah, ini orang pasti cuma takut harganya turun karena fotonya kesebar, jadi nggak eksklusif lagi, wkwkwk.

Begitulah tulisnya waktu itu. Dan masih ada komentar-komentar serupa di bawahnya. Sapri tertawa, menganggapnya sebuah hiburan yang cukup berharga.

Sekarang, Sapri ingin tahu kelanjutan nasib wanita itu. Ia memesan satu cangkir kopi dan seporsi cemilan lagi. Tangan kirinya merogoh kantong, mengambil rokok untuk ditaruh di mulut yang gigi depannya ompong.

_

            Sara melompat dari angkot setelah membayar tanpa meminta kembalian. Ia berlari sambil tidak pernah berhenti menekan tombol panggilan ke nomor Rina di ponselnya. Nafas Sara terengah-engah. Ia tidak bisa tidak menangis dalam situasi seperti ini. Pikirannya begitu kalut dan takut. Sara cukup mengetahui kondisi Rina. Setelah ‘skandal’ nya menyebar di media sosial bahkan masuk media nasional, pihak kampus memberi peringatan keras kepada Rina karena dianggap merusak nama baik perguruan tinggi. Keanggotaannya sebagai duta pariwisata kota dicabut, membuat karir yang dibangun selama sekian tahun luntur. Bisikan-bisikan sinis bercampur lelucon cabul muncul ketika Rina muncul di kampus untuk mengurus pengunduran diri yang terpaksa ia lakukan. Lebih-lebih lagi ia dibenci karena dituduh memfitnah Baskara, sampai-sampai ada yang bilang Rina tidak lebih dari peliharaan partai tertentu yang tidak ingin Baskara mencalonkan diri sebagai walikota. Akun media sosialnya diserbu sana sini, bahkan Rina sempat mendapat ancaman akan dihabisi.

            “Aku jijik, ra” kata Rina sehabis menceritakan apa yang dialaminya. Waktu itu Sara memeluk Rina yang meringkuk seperti bayi di kamar rumah kontrakannya.

            “Seandainya aku jelek, mungkin Baskara tidak berminat melakukan ini kepadaku, lanjut Rina. “Aku benci diriku, yang meski kata orang cantik, ternyata bodoh minta ampun.

            “Tidak Rin,” sahut Sara, mengelus wajah Rina dengan lembut. “Baskara itulah yang bajingan. Semoga dia mampus dan tulang-tulangnya habis dibakar api neraka.

            “Apa aku saja yang mampus ya, Ra? Rasanya aku tidak kuat lagi.

            Yang bisa dilakukan Sara waktu itu hanya memeluk Rina lebih erat sambil membisikkan kata-kata penenang. Sara benar-benar tidak berharap omongan Rina menjadi kenyataan.

            Rumah kontrakan Rina sudah terlihat oleh mata Sara. Wanita itu mempercepat langkah. Dia tidak boleh terlambat.

                                                                        _

            Rina sudah bersiap. Kedua kakinya kini di atas kursi, sementara tali tambang sudah melingkari lehernya. Pandangan mata Rina telah benar-benar kabur oleh air mata. Ia bahkan tidak bisa melihat apa yang ada di depannya. Ponselnya tidak berhenti bergetar. Di dalam hati, Rina tidak berhenti mengutuki orang-orang. Ini kan, yang kalian inginkan? Aku mati dan semuanya selesai. Penyebar ‘fitnah’  yang kalian benci akan segera pergi.

            Sebuah suara lantang dari pintu depan membuat Rina terlonjak. Tanpa sadar kakinya mundur ke belakang, membuat kursi kecil yang menyangganya jatuh. Leher Rina terjerat seketika. Mulutnya megap-megap mencari udara sementara tubuhnya kejang dan kedua kakinya menendang-nendang.

            Namun itu tidak berlangsung lama. Sara segera muncul dan menghambur ke arah Rina, memeluk tubuh wanita itu dan menjaganya tetap pada posisi aman. Nafas keduanya memburu, sampai-sampai tidak ada kata yang bisa diucapkan di keadaan itu.

Sementara itu, di sebuah warung kopi yang jauh, Sapri masih anteng dengan layar ponselnya. Sapri menyesap kopinya, mengernyit karena terlalu banyak gula, kemudian dia mengetikkan sesuatu di layarnya.

Nah kan nggak jadi mati, settingan ini pasti. Dipikir penonton goblok apa. wkwkwk.

Lampung Selatan, 2 November 2025

Biografi Singkat: Fauzi, lahir di Lampung Selatan, 20 Oktober 2004. Saat ini sedang studi di Jurusan Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Bandar Lampung. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen terhimpun di beberapa buku, di antaranya Tanah Pijak Bernama Lampung  (antologi puisi, 2024), Sepiring Nasi di Kloset (antologi puisi esai mini, 2024), Mobil Kodok Mobil Monyet (antologi cerpen, 2025), dan Kain Merah di Malam Jamuan (antologi cerpen, 2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *