Serpihan di Dasar Laut

Oleh: Fauzi

Aku tidak pernah mengira kalau ternyata kedalaman laut adalah tempat aku kembali. Di balik punggung Rohan, aku temukan laut yang begitu mendebarkan dan menenteramkan. Diriku terombang-ambing cukup lama mengikuti kehendak gelombang, diikuti ratusan ikan dan udang melayang-layang.

Sebelum laut memelukku terakhir kali, aku adalah seonggok benda yang tercipta dari beberapa lembar kain yang dijahit asal jadi. Rohan menggunakanku untuk menyimpan berbagai macam barang, mulai dari pakaian hingga sebilah parang. Aku hampir selalu ada di punggung Rohan ke manapun pria itu pergi ke luar. Aku kuat dan bisa diandalkan, begitulah aku berbangga diri.

Setiap hari berada di punggung Rohan membuatku hafal setiap ritme kehidupannya. Mulai dari ia terbangun sehabis matahari terbit hingga pada akhirnya tertidur lagi di sebuah kamar sempit. Rohan tinggal bersama ibu dan keempat adiknya di sebuah rumah mungil di pinggir sungai. Rumah itu tidak berdiri sendiri, ada puluhan serupa yang berderet di sepanjang sungai itu, berisi sekumpulan manusia yang serupa dengan Rohan, dari segi warna kulit sampai nasib.

Untuk penghidupan, Rohan dan keluarganya sebagian besar mengandalkan sumbangan yang diberikan orang luar. Sumbangan tidak selalu ada, semakin lama semakin berkurang. Maka dari itu Rohan selalu mencoba mencari pekerjaan di pasar. Sambil membawaku di punggung, ia berkeliling menawarkan tenaga. Ia harus bersaing dengan puluhan orang lain yang mengharapkan hal yang sama, pekerjaan dan upah. Rohan kerap kali frustasi karena ia sering ditolak tenaganya. Membuatnya harus pulang dengan tangan hampa menemui keluarganya yang juga sehabis pulang dari meminta-minta.

Aku sudah tidak tahan berada di tempat ini,” kata Rohan pada ibunya. “Lama-lama hidup di sini semakin payah, orang-orangnya susah. Di awal mereka bilang mau menerima kita karena sesama manusia. Kemudian mereka jengkel melihat pendatang seperti kita meminta-minta sumbangan. Tapi juga tidak pernah mau memberikan pekerjaan.”

Setidaknya di sini lebih baik dari rumah kita dulu. Mereka tidak membunuh kita cuma karena kita ada. Kita juga tidak lagi bergerak tanpa arah di atas kapal selama puluhan hari.  Cobalah buat bersyukur,” sahut Ibu Rohan dari balik kainnya.

Rohan tidak menjawab perkataan ibunya itu. Bukan cuma dia saja yang merasakan kegelisahan ini, semua orang di rumah kayu pinggir kali juga sama. Dulu mereka semua datang menggunakan kapal kayu setelah sekian lama menatap laut sampai mata mereka kering. Ayah Rohan meninggal di atas kapal. Ia ingat jelas bagaimana tubuh ayahnya yang kurus kering dilemparkan ke gejolak ombak.

Daratan adalah tempat harapan tertambat. Rohan ingin sekali hidup normal di daratan seperti manusia pada umumnya. Rohan ingin menemukan tempat yang bisa ia jadikan rumah sebenar-benarnya.

Rumah di pinggir sungai itu tidak menjanjikan apa-apa, tanah dan para manusia di sekitar tidak menginginkan Rohan dan kaumnya ada di situ. Rohan tahu kalau sudah ada rencana pengusiran dari warga lokal kepada pengungsi yang menduduki wilayah mereka.

Kita memang seharusnya hendak pergi dari sini,” kata Suhab, seorang lelaki yang paling dituakan di antara para pengungsi. “Kemarin ada beberapa orang yang merusak tiang pondokku, sebelumnya dia juga sudah mengancam bakal membakar seluruh rumah di pinggir sungai, jika kita tidak segera angkat kaki. Asal kalian tahu, ini bukan pertama kali.”

Semua orang yang mendengar itu ikut menuturkan keluhannya masing-masing. Mulai dari perlakuan kasar atau sekedar hinaan sudah mereka terima. Warga lokal sudah semakin tidak segan menunjukan sikap yang sebenarnya. Ada semacam ketakutan kalau satu saat nanti semua ancaman itu tidak hanya sekedar omongan.

Yasudah, kita pergi saja dari sini!

Pilihan sulit memang selalu hadir di situasi sempit. Ketika sudah tidak tahan di satu tempat, hal masuk akal yang bisa dilakukan adalah pergi dari tempat itu. Tapi semua orang tahu kalau ada resiko besar jika pilihan itu dilaksanakan.

Di saat keraguan menggantung di langit-langit, ada saja kejadian yang memaksa buat mengambil keputusan. Dari pojok sungai yang dijadikan tempat berkumpul malam itu, Rohan dan yang lain melihat kobaran api yang membumbung dari rumah-rumah pinggir sungai. Teriakan dari warga lokal terdengar bersahut-sahutan dengan jerit panik para perempuan dan anak-anak.

Seketika semuanya menjadi jelas. Setiap orang berlari mencari kerabat dan keluarganya yang mungkin saja selamat. Tubuhku terguncang-guncang hebat ketika Rohan berlari cepat menyusul ibu dan ke empat adiknya. Aku bisa merasakan hawa panas yang menyebar saat Rohan berlari menerjang kobaran api.

Tapi tidak seorang pun anggota keluarganya Rohan temukan. Dalam keadaan kalut, ia mendengar seruan kawan-kawannya untuk segera pergi ke arah pesisir pantai. Di belakang Rohan sudah ada gelombang manusia yang sukarela menggiring Rohan ke pantai seperti menuntun domba kebingungan ke kandang. Tubuh Rohan terdorong. Dengan linglung Rohan mencoba mengikuti semua orang. Ia masih mencoba mencari ibu dan keempat adiknya di antara kerumunan teriakan dan angisan.

Sesampainya di tepi pantai, telah tertambat tiga buah kapal yang dahulu membawa Rohan ke tempat ini. Bersama yang lain, malam itu Rohan digiring memasuki kapal. Beberapa warga lokal ada yang menyelipkan bekal ke penumpang kapal, yang pasti bakal habis kurang dari seminggu.

Di punggung Rohan, aku bisa merasakan detak jantung pria itu yang semakin tidak beraturan. Ia masih menyapu mata ke segala arah mencari keluarganya, sesuatu yang sia-sia. Karena hingga kapal bergerak dan daratan tidak terlihat lagi di kejauhan, Rohan tidak juga melihat keluarganya. Rohan sudah mengikhlaskan kalau mereka sudah pergi dilalap api. Rohan terduduk lemas di lantai kapal yang licin dan bacin. Sayup-sayup masih terdengar suara tangis di telinga Rohan, hingga ia sadari kalau suara tangis juga keluar dari mulutnya sendiri.

Rohan memang ingin pergi dari tempat pinggir sungai itu, tapi jika tidak bersama keluarganya, ia lebih baik tidak pergi ke mana-mana. Sekarang ia tidak tahu bakal ke mana kapal ini menuju, hanya bisa pasrah pada angin dan laut. Mungkin kapal akan membawa ke tempat yang jauh lebih baik, di mana Rohan dan yang lain diterima selayaknya manusia. Tapi kemungkinan besar juga tidak jauh berbeda dari yang dulu, di mana Rohan bahkan harus meringis melihat tatapan manusia di sekitar.

Di tengah itu semua, Rohan ingin langsung pergi ke tempat keluarganya berada. Hidupnya tidak terasa nyata tanpa seorang pun keluarga di sisinya. Rohan berjalan ke tepi kapal, melihat matahari sudah mau terbit di kejauhan sana. Seperti sebatang kayu tertiup angin, tubuhnya terjun ke depan. Suara debur air mengagetkan orang di sekitar.

            “Hoi! Ada orang jatuh! Cepat ambil tali!

Rohan tidak mendengar semua teriakan itu, hanya aku yang mengapung sebentar menahan gerak tubuhnya, sebelum gelombang laut menarik kami ke bawah. Suara-suara dari dunia luar telah sepenuhnya terisolasi. Kami menyatu bersama aliran air, hingga menjadi serpihan laut yang mengitari karang dan pasir.


Tentang Penulis: Fauzi, lahir di Lampung Selatan, 20 Oktober 2004. Saat ini sedang studi di Jurusan Sastra Inggris Universitas Teknokrat Indonesia (UTI), Bandar Lampung. Beberapa karyanya berupa puisi dan cerpen terhimpun di beberapa buku, di antaranya Tanah Pijak Bernama Lampung  (antologi puisi, 2024), Sepiring Nasi di Kloset (antologi puisi esai mini, 2024), Mobil Kodok Mobil Monyet (antologi cerpen, 2025), dan Kain Merah di Malam Jamuan (antologi cerpen, 2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *