Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Oleh: Deni Febriansyah

Di tengah dunia yang semakin terhubung, kita sering merasa seolah-olah tidak ada lagi batas antarnegara. Dalam satu hari, kita bisa menonton drama Korea di Netflix, tertawa dengan meme dari Amerika, lalu bermain gim bersama teman. Semua terasa begitu dekat. Namun, di balik kemudahan itu, ada satu hal yang sering luput kita sadari yaitu setiap konten yang kita nikmati sebenarnya telah “melewati” proses penerjemahan dan lebih dari itu, proses pertemuan antarbudaya.
Budaya Populer & Penerjemahan Bahasa
Mungkin kita pernah mengalami ketika sedang menonton film di Netflix, lalu merasa takarir-nya “kok aneh ya?” Secara arti mungkin benar, tapi rasanya kurang dapat. Atau sebaliknya, ada juga takarir yang terasa sangat “Indonesia”, sampai-sampai kita lupa kalau film itu sebenarnya berasal dari Korea, Jepang, atau bahkan Spanyol. Hal kecil seperti ini sebenarnya menunjukkan satu hal penting: penerjemahan bukan cuma soal bahasa, tapi juga soal budaya.
Dalam khasanah kajian penerjemahan, hal ini dikenal sebagai pendekatan kebudayaan, yaitu pendekatan yang melihat bahwa setiap teks selalu terikat dengan budaya tertentu. Jadi ketika sebuah teks diterjemahkan, yang berpindah bukan hanya kata-kata, tetapi juga cara berpikir, nilai, dan kebiasaan dari budaya asalnya. Di era sekarang, terutama di kalangan Gen Z, kita bersentuhan dengan fenomena ini hampir setiap hari, baik saat menonton film, scrolling media sosial, maupun bermain gim.
Netflix menjadi salah satu contoh paling nyata bagaimana penerjemahan bekerja dalam skala global. Bayangkan saja, satu film bisa ditonton oleh jutaan orang dari berbagai negara dengan latar belakang budaya yang berbeda. Di sinilah peran penerjemah menjadi sangat penting: bagaimana membuat teks tetap bisa dipahami, tanpa kehilangan identitas aslinya.
Ambil contoh dari drama Korea. Istilah seperti oppa, unni, atau hyung kini sering dibiarkan apa adanya dalam takarir. Dulu, mungkin istilah tersebut akan diterjemahkan menjadi “kakak”, tapi sekarang penerjemah cenderung mempertahankannya. Kenapa? Karena kata-kata tersebut tidak hanya sekadar panggilan, tetapi juga mengandung nilai budaya tentang hubungan sosial dan hierarki. Jika diterjemahkan secara langsung, makna tersebut bisa hilang.
Namun, tidak semua hal bisa dipertahankan begitu saja. Dalam banyak kasus, penerjemah harus melakukan penyesuaian agar pesan tetap sampai ke penonton. Misalnya, dalam menerjemahkan humor. Lelucon dalam film Amerika sering kali tidak bekerja jika diterjemahkan secara literal ke dalam bahasa Indonesia. Akibatnya, penerjemah harus “mengubah” sedikit agar tetap terasa lucu. Di sinilah terjadi negosiasi budaya antara mempertahankan keaslian atau menyesuaikan dengan konteks lokal.
Resepsi Budaya Gen Z
Menariknya, di era Gen Z seperti sekarang, penonton justru semakin terbuka terhadap budaya asing. Banyak yang tidak keberatan dengan istilah-istilah yang tidak diterjemahkan, bahkan merasa itu sebagai bagian dari pengalaman menonton. Takarir bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi juga jendela untuk memahami budaya lain.
Namun, dunia penerjemahan tidak hanya terjadi di film atau series. Kalau kita melihat lebih dekat ke kehidupan sehari-hari Gen Z, salah satu ruang yang sangat menarik adalah dunia gim khususnya Mobile Legends. Gim ini bukan hanya soal bermain, tetapi juga soal bahasa dan budaya yang terus berkembang.
Coba perhatikan istilah-istilah yang digunakan dalam Mobile Legends: kill, assist, legendary, shutdown, wipe out. Hampir semuanya tetap menggunakan bahasa Inggris. Kenapa tidak diterjemahkan saja ke bahasa Indonesia? Secara teori, itu bisa saja dilakukan. Tapi dalam praktiknya, hal tersebut justru terasa aneh bagi para pemain.
Di sinilah pendekatan budaya kembali terlihat. Dalam komunitas pemain gim, istilah-istilah tersebut sudah menjadi bagian dari “budaya global”. Jika diubah, justru akan mengganggu pengalaman bermain. Bahkan, yang terjadi bukan sekadar mempertahankan bahasa asli, tetapi munculnya bahasa campuran seperti “push dulu”, “war yuk”, atau “jangan feed”. Ini bukan lagi sekadar terjemahan, melainkan bentuk baru dari komunikasi lintas budaya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penerjemahan di era digital tidak selalu bersifat formal. Kadang, penerjemahan justru terjadi secara alami di antara pengguna bahasa itu sendiri. Komunitas pemain gim, misalnya, secara tidak langsung menciptakan sistem bahasa mereka sendiri – campuran antara bahasa Inggris dan Indonesia yang hanya benar-benar dipahami oleh sesama pemain.
Di sisi lain, hal ini juga menunjukkan adanya perubahan dalam cara kita memandang bahasa. Jika dulu bahasa asing mungkin terasa asing, sekarang justru menjadi bagian dari identitas. Banyak anak muda yang merasa lebih nyaman menggunakan istilah Inggris dalam konteks tertentu, karena dianggap lebih sesuai dengan budaya global yang mereka jalani.
Refleksi Budaya dalam Penerjemahan
Namun, tidak semua berjalan tanpa masalah. Dalam beberapa kasus, penerjemahan baik di film maupun gim bisa saja menghilangkan konteks budaya yang penting. Misalnya, latar belakang karakter atau nilai sosial tertentu yang tidak diterjemahkan dengan baik. Hal ini bisa menyebabkan kesalahpahaman atau bahkan stereotip terhadap budaya tertentu.
Belum lagi dengan kehadiran teknologi seperti AI dan machine translation. Sekarang, siapa pun bisa menerjemahkan teks hanya dengan sekali klik. Tapi masalahnya, mesin belum tentu memahami budaya. Ia bisa menerjemahkan kata, tetapi belum tentu menangkap makna yang tersembunyi di baliknya. Akibatnya, terjemahan bisa terasa datar, kaku, atau bahkan salah konteks.
Di tengah semua perubahan ini, peran manusia sebagai penerjemah tetap tidak tergantikan. Penerjemah bukan hanya pengalih bahasa, tetapi juga jembatan budaya. Mereka harus mampu memahami dua dunia sekaligus: budaya sumber dan budaya target. Ini bukan pekerjaan yang mudah, apalagi di era yang serba cepat seperti sekarang.
Bagi Gen Z, situasi ini sebenarnya menjadi peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, kita memiliki akses yang sangat luas terhadap berbagai budaya. Kita bisa menonton film dari berbagai negara, bermain gim dengan orang dari seluruh dunia, dan berinteraksi lintas bahasa setiap hari. Tapi di sisi lain, kita juga dituntut untuk lebih peka terhadap perbedaan budaya tersebut.
Pendekatan budaya dalam penerjemahan mengajarkan kita satu hal penting: bahwa memahami bahasa berarti juga memahami budaya. Tidak semua hal bisa diterjemahkan secara langsung, dan tidak semua makna bisa dipindahkan begitu saja. Ada proses, ada pertimbangan, dan ada tanggung jawab di dalamnya.
Mungkin itulah mengapa, di era seperti sekarang, penerjemahan tidak lagi bisa dipandang sebagai pekerjaan “di balik layar”. Ia justru menjadi bagian penting dari cara kita melihat dunia. Setiap takarir yang kita baca, setiap istilah gim yang kita gunakan, semuanya adalah hasil dari pertemuan budaya yang tidak sederhana. Dan tanpa kita sadari, lewat proses itulah kita belajar bahwa memahami orang lain tidak selalu dimulai dari bahasa yang sama, tetapi dari kesediaan untuk memahami perbedaan.
Bionarasi Penulis:
Deni Febriansah adalah alumnus Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, dan saat ini sedang menempuh pendidikan pada Program Magister Bahasa Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia. Secara profesional, ia berkarier sebagai Marketing Supervisor di Mentari Books Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan buku-buku English Language Teaching (ELT), termasuk produk dari penerbit internasional seperti Cambridge, Oxford, Marshall Cavendish Education lainnya. Peran ini telah membentuk kompetensinya dalam komunikasi bisnis, pengembangan jaringan kerja sama pendidikan, serta strategi distribusi bahan ajar Bahasa Inggris. Pengalaman tersebut memperkuat keterkaitannya antara dunia industri dan pendidikan, khususnya dalam penyediaan sumber belajar yang berkualitas.