Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Oleh: Yoan Meyral Sinaga

Barangkali ini memang sudah takdirku; disekap, dipukul, bahkan diinjak-injak oleh dua pria bertubuh tegap dan tinggi, di bangunan tua yang memang sengaja kudatangi senja ini.
Aku datang bukan tanpa alasan, tapi bangunan tua yang menyerupai rumah peninggalan kolonial Belanda ini begitu menyulut api semangat jiwaku untuk seseorang yang meminati fotografi. Tujuanku hanya satu, memotret bagian samping rumah yang terselip beberapa ranting pohon sawo menjalar di jendela rumah, penanda bahwa rumah ini sudah lama tidak ditempati. Tak pernah kusangka, kamera yang begitu kusayangi ini malah menjadi malapetaka, membuatku berakhir tragis dihajar oleh bengisnya kesalahpahaman.
Di hadapanku sudah duduk pria berkepala plontos dengan wajah yang cocok sekali untuk peran penjahat di serial pembunuhan. Sedangkan pria satunya, berjenggot tebal, tengah menghisap rokok agak jauh setelah puas menghancurkan tubuh ringkih yang kumiliki, sekaligus menghancurkan harga diriku. Kurasakan pelipis mata kananku sedikit perih dan kakiku mati rasa, entah sudah patah atau hanya luka parah. Kini, mereka mengikatku dengan tali yang sudah mereka siapkan sembari terus menginterogasi; apa tujuanku, siapa yang menyuruhku, dan beberapa kali mengancam nyawaku.
___***___
Beberapa saat sebelumnya, ketika aku membidik kamera analog tua pemberian almarhum kakekku ke arah jendela rumah yang dijalari beberapa ranting pohon itu, tak sengaja kulihat dua orang bejat yang memukuliku sekarang ini, tengah membopong seorang perempuan. Dari apa yang kulihat dan dengar, mereka sedang memindahkan dan membicarakan mayat mahasiswi yang begitu aktif dalam kegiatan aktivis belakangan ini.
“Ini benar kan, Suryani yang disuruh,” tanya si pria berkepala plontos.
“Iya, tadi ada tanda pengenal di tasnya” jawab si pria berjenggot tebal meyakinkan rekannya. Aku mendengar itu semua sembari bersembunyi di tebalnya semak belukar halaman rumah ini.
Tentu saja aku kenal, nama Suryani sang mahasiswi itu. Namanya begitu terkenal di kota ini, bahkan sering masuk berita televisi daerah dan sedang dicap buron dari koran yang tadi pagi kubaca. Bangunan tua ini memang tempat yang jarang dilalui orang, selain karena banyak cerita horor noni Belanda, juga karena tempat ini tidak layak untuk didatangi. Semak belukar yang kian membesar menambah kesan betapa cocoknya tempat ini untuk menghilangkan seseorang. Bodohnya aku yang sekarang tengah melihat semua kejadian ini, malah memutuskan membidik kamera analog tua ku, memotret semua kejadian layaknya reporter magang yang baru ditugaskan di hari pertama, dan tanpa sadar blitz kameraku menyala, menyita perhatian mereka.
___***___
Tamparan demi tamparan terus mereka layangkan ke pipi kanan-kiriku sembari diduetkan dengan pukulan ke ulu hati yang begitu menyakitkan untuk diingat. Terus saja mereka memaksaku untuk berbicara dan menjawab pertanyaan yang sama, “Siapa yang mengirimmu kemari!?” dengan nada yang semakin keras. Tentu saja aku diam, bukan karena itu adalah pilihanku, tetapi selain karena aku memang tak tahu apa-apa, aku tetap diam juga karena Tuhan sudah menakdirkan diriku untuk tak bisa berbicara, bisu sejak lahir.
“Siapa yang mengirimmu, sialan!” Teriakan si plontos begitu nyaring di telingaku.
Kucoba menggelengkan kepala berulang kali, untuk membuat mereka sadar bahwa mereka salah paham padaku yang bisu ini.
“Anjinglah! Susah sekali memaksa bocah ini untuk berbicara,” si jenggot tebal membuang puntung rokoknya ke wajahku.
“Udah bunuh aja, ngabisin waktu aja kayak gini, emang bocah terlatih ini!” Kata si plontos dengan nada marah.
Aku tidak bisa menahan tangisanku kali ini, hidup yang selama ini kucoba pertahankan sebisaku, sekarang tengah dipertaruhkan oleh dua orang bengis yang tidak kukenal ini. Aku masih terus berteriak, terus mencoba sebisa mungkin, berharap Tuhan mengirimkan mukjizatnya, membolehkanku untuk bersuara. Tapi sekeras apapun aku berteriak, teriakan itu tidak akan didengar oleh siapapun, kecuali oleh Tuhan. Tapi, di mana Tuhan yang kupercaya itu? Rasa kecewa yang seharusnya tidak perlu kupertanyakan. Meratapi, mengapa menjelang waktu kematianku ini, aku merasakan rasa sakit dan rasa kecewa.
“Harapan ada untuk diharapkan,” pesan kakekku yang masih kuingat sampai sekarang. Dia mengatakan itu tepat sebelum kematiannya. Pesannya sederhana, dia terus ingin aku berharap, bahwa kebisuanku tidak akan menjadi masalah kedepannya. Tetapi dari kejadian ini, aku menjadi sadar bahwa harapan tidak ada gunanya tanpa adanya aksi yang dilakukan. Harapan yang engkau bicarakan, Kek, ternyata tak bekerja baik pada situasi sulit seperti ini. Tapi aku tak menyalahkanmu, aku juga tak menyalahkan Tuhan yang memberiku kondisi bisu seperti ini.
Tanpa sadar ternyata keparat di depanku ini sudah menodongkan sesuatu tepat di tengah dahiku. Benda besi dingin yang familiar ini tengah mengarah kepadaku, moncongnya yang begitu khas seperti di serial televisi, ditodongkan untuk siap kapan saja menghancurkan isi kepalaku dalam hitungan detik.
Harapan yang kukira akan datang padaku, doa yang kukira akan dikabulkan Tuhan, ternyata tak ada yang berguna. Aku tak akan menyalahkan siapapun, karena memang siapa yang bis—
Butiran keras itu sudah memasuki dahiku, memberi lubang begitu dalam, begitu dalam seperti harapanku di hari kematian.
Biografi Penulis:
Yoan Meyral Sinaga, lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada 26 Mei 2003. Ia telah memiliki ketertarikan pada seni, khususnya menggambar dan bercerita, sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Teknokrat Indonesia. Selama masa perkuliahan, ia terus menekuni hobinya dalam menciptakan konten untuk media sosial, seperti video, gambar, dan karya sastra—salah satunya dimuat dalam buku ini. Untuk melihat karya-karyanya lebih lanjut, kunjungi Instagram-nya di @yoosinagaa.