Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
(Kate Chopin, 1894)
Diterjemahkan dari cerpen berjudul ” The Story of An Hour“ oleh Nurin Aqmarina
Cerpen terjemahan ini tergabung dalam kumpulan cerpen terjemahan Inggris-Indonesia berjudul “Kisah Satu Jam: Antologi Cerpen Terjemahan Kesusastraan Inggris” terbitan Literation tahun 2026

Mengetahui bahwa Mrs. Mallard menderita penyakit jantung, maka berita tentang kematian Mr. Mallard disampaikan kepadanya dengan begitu hati-hati.
Adik perempuannya, Josephine, memberitahunya dengan kalimat terbata-bata; isyarat terselubung dalam kalimat yang setengah ditutup-tutupi. Teman suaminya, Richards, juga berada di dekatnya. Dialah yang berada di kantor surat kabar ketika berita mengenai kecelakaan kereta api itu diterima, dengan nama Brently Mallard berada di posisi pertama dalam daftar korban tewas. Ia mencoba memastikan kebenaran berita itu dengan menunggu telegram kedua sembari bergegas untuk mencegah teman lain yang kurang peka soal keadaan untuk tidak menyampaikan berita duka itu lebih dulu.
Mrs. Mallard tidak mendengar berita itu sebagaimana wanita-wanita lain mendengarnya. Dia diam terpaku, tak mampu menerima beratnya kabar itu, kemudian menangis tak terkendali di pelukan saudarinya. Ketika badai kesedihan mendadak itu telah mereda, ia pergi ke kamarnya sendirian. Ia tak mengizinkan seorang pun mengikutinya.
Ada sebuah kursi besar dan nyaman yang ditempatkan di depan jendela. Di kursi itu, Mrs. Mallard membenamkan dirinya, tertekan oleh kelelahan fisik yang menjalari tubuh dan seakan ikut menusuk ke dalam jiwanya.
Di lapangan terbuka depan rumahnya, ia melihat pepohonan dipenuhi pucuk-pucuk segar yang baru tumbuh di musim semi. Nikmatnya aroma hujan mengambang di udara. Di jalan, seorang pedagang keliling berteriak menjajakan dagangannya. Seseorang di kejauhan menyanyikan melodi lagu yang sayup-sayup terdengar di telinganya, dan sekawanan burung gereja berkicau di atap.
Hari itu langit dipenuhi gumpalan awan yang bertumpuk di sana sini, dengan permukaan langit berwarna biru tampak menembus di celah-celahnya. Ia memperhatikan pemandangan itu dari balik jendelanya.
Ia duduk dengan kepala lunglai bersandar di bantalan kursi, tak bergerak, kecuali saat isak tangis lepas dari tenggorokan dan mengguncang tubuhnya, seperti anak kecil yang menangis hingga jatuh tertidur lalu masih terus terisak di dalam mimpi.
Ia masih muda, dengan wajah yang cantik dan tenang, dengan garis wajah yang kuat dan mengguratkan tekanan. Namun sekarang yang ada hanyalah tatapan kosong di matanya, dengan pandangan yang terpaku ke titik biru di langit. Tidak ada pantulan di matanya, menunjukkan alam pikiran cerdas yang terbelenggu.
Ada sesuatu yang akan menimpa dirinya dan ia menanti hal itu dengan cemas. Apakah itu? Ia tidak tahu, terlalu samar bahkan ia tidak yakin apa itu. Tapi ia merasakannya, merayap keluar dari langit, bergerak ke arahnya melalui suara, melalui aroma, melalui warna yang mengisi udara.
Dadanya naik turun bergemuruh. Ia mulai menyadari sesuatu sedang mendekat untuk merasukinya, sementara tekad untuk melawan rasa itu hanya setipis kedua lengan putihnya yang ramping. Ketika ia coba mengabaikan dirinya, sebuah bisikan lirih tercetus dari bibirnya yang sedikit terbuka. Ia mengucapkannya berkali-kali seraya berbisik: “bebas, bebas, bebas!”
Pandangan kosong dan ketakutan yang mengikutinya tiba-tiba hilang dari matanya. Kedua matanya tetap awas dan jernih. Debar jantungnya berdegup kencang, aliran darah menghangatkan dan menenangkan setiap jengkal tubuhnya.
Ia tidak berhenti untuk mempertanyakan kebenaran rasa sukacita besar yang menyelimutinya. Pikiran yang jernih dan tercerahkan membuatnya mengabaikan lintasan pikiran remeh itu. Ia tahu bahwa ia akan menangis lagi saat ia melihat sepasang tangan yang baik, lembut terlipat dalam kematian; wajah yang selalu menatapnya dengan penuh cinta, kini kaku, kelabu dan tak bernyawa. Tapi ia melihat lebih jauh dari peristiwa pahit itu, sebuah prosesi panjang pada tahun-tahun akan datang yang sepenuhnya menjadi miliknya. Dan ia menyambut tahun-tahun itu dengan tangan terbuka.
Ia tidak perlu hidup untuk siapa pun di tahun-tahun yang akan datang; ia hanya akan hidup untuk dirinya sendiri. Tidak akan ada kehendak yang mengikatnya dalam kekeraskepalaan, yang dipercaya oleh pria dan wanita lain bahwa mereka dapat memaksakan kehendak pada sesama manusia. Tujuan yang baik ataupun tujuan yang buruk, saat ia melihatnya dalam momen kesadaran yang singkat, membuat tindakan itu terlihat seperti kejahatan
Dan ia tetap mencintai suaminya–kadang-kadang. Seringnya tidak. Tidak masalah! Siapa yang dapat mencinta, misteri yang tak terpecahkan, terhitung di depan penegasan diri yang tiba-tiba merasukinya, yang disadarinya dengan tiba-tiba sebagai hasrat terkuatnya!
“Bebas! Jiwa dan raga bebas!” Ia mengulang-ulang bisiknya.
Josephine berlutut di depan pintu yang tertutup dengan bibirnya di lubang kunci, memohon untuk dibiarkan masuk. “Louise, buka pintunya! Kumohon, buka pintunya kau bisa membuat dirimu jatuh sakit. Apa yang kau lakukan, Louise? Demi Tuhan, buka pintunya.”
“Pergilah. Aku tidak sedang membuat diriku jatuh sakit.” Justru ia sedang terbuai pancaran kehidupan melalui jendela yang terbuka itu.
Angan-angannya membumbung liar membayangkan sepanjang hari-hari di masa depan. Hari-hari musim semi, musim panas, dan segala macam hari yang akan menjadi miliknya. Ia berdoa singkat dalam nafasnya semoga usianya panjang. Baru kemarin rasanya ia gemetar saat terlintas dalam pikirannya bahwa hidup mungkin akan menjemukan.
Ia akhirnya bangkit dan membuka pintu memenuhi permintaan adik perempuannya. Ada kemenangan yang bergelora di matanya, dan ia membawa dirinya seakan Dewi Kemenangan tanpa disadarinya. Ia memeluk pinggang adiknya, dan mereka bersama-sama menuruni tangga. Richards berdiri menunggu mereka di ujung tangga.
Seseorang membuka kunci pintu depan. Muncullah Brently Mallard ke dalam rumah, sedikit lelah karena perjalanan, memegang koper kecil dan payung. Ternyata ia berada jauh dari lokasi kecelakaan, dan bahkan tidak mengetahui bahwa kecelakaan telah terjadi. Ia berdiri tertegun mendengar teriakan Josephine, serta pada gerakan cepat Richards untuk menadah tubuh dan menghalangi pandangannya dari istrinya.
Saat para dokter datang, mereka menyatakan bahwa istrinya, Louise Mallard, telah meninggal karena serangan jantung akibat rasa bahagia yang membunuh.
Bionarasi Penulis:
Kate Chopin (8 Februari 1850 – 22 Agustus 1904) adalah penulis cerita pendek dan novel Amerika yang karya-karyanya dianggap mendahului zamannya, sering kali mengeksplorasi hasrat, otonomi, dan peran perempuan dalam masyarakat.
Bionarasi Penerjemah :
Nurin Aqmarina adalah mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia dengan passion dalam fotografi. Saat tidak sedang belajar, ia sering ditemukan di pojok ruangan membaca buku atau mendengarkan musik. Ia juga menyukai menulis cerita, meskipun naskah-naskahnya telah tersimpan dalam draft selama bertahun-tahun.