Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Oleh: Wahid Kurniawan

Di luar sana, banyak penulis yang menjajaki beragam genre atau jenis tulisan dalam riwayat kepengarangan mereka. Rasanya kita sukar mendapati penulis yang hanya terpaku pada satu jenis tulisan tanpa pernah mencoba dan menuangkan ide dalam bentuk atau medium yang sama sekali berbeda. Tak sedikit dari mereka memiliki kemahiran baik dalam menulis cerpen, novel, esai, bahkan menerjemahkan karya penulis lain. Gambaran itu, misalnya, bisa kita lihat pada figur Eka Kurniawan yang setelah moncer dikenal sebagai penulis fiksi, ia pun rupanya sudah lama mengakrabi tradisi penulisan nonfiksi seperti esai atau ulasan; bahkan, ia pun menerjemahkan beberapa karya penulis dunia di awal kepenulisannya sampai sekarang.
Kemauannya menjajaki beragam jenis tulisan itu mencerminkan jiwa penulis yang selalu haus akan hal baru, medium baru, dan cara ungkap baru. Barangkali, di kepala penulis seperti dirinya, beragam ide menganak tanpa henti dan menuntut cara ungkap lain untuk dilahirkan. Ia pun memilah di antara genre atau bentuk tulisan yang beragam, menentukan medium mana yang paling tepat untuk menampung suatu ide. Pemilahan itu rasanya kerap terjadi dalam kerja kepenulisan seseorang. Mereka bermain-main dengan rupa-rupa medium yang dilakukan tanpa henti.
Bicara soal medium tulisan, berapa banyak yang masih menimbang soal medium surat? Mari mengenang jenis tulisan yang satu ini. Kita bisa menengok sebuah buku setebal 200-an halaman karya penulis Ceko berbahasa Jerman, Franz Kafka, yang bertajuk Letters to Milena (Schocken Books, 1990). Buku itu menghimpun surat Kafka terhadap sosok Milena Jesenská, penerjemah awal Kafka ke bahasa Ceko; yang kelak menjadi sosok spesial dalam kisah hidup Kafka.
Keberadaan surat-surat tersebut tak syak membuat pembaca global mendapuk hubungan keduanya sebagai epistolari menawan di abad modern. Surat yang mereka tulis menggambarkan hubungan jarak jauh—Wina, Praha, Meran—yang penuh upaya melipat jarak. Surat bukan saja menjelma medium semata, melainkan menjadi penjelmaan diri mereka sendiri. Antusiasme keduanya ditunjukkan dalam kebahagiaan mengunjungi kantor pos, memilih bermacam-macam prangko, sampai menentukan kertas jenis apa yang paling indah. Menawannya lagi, sekalipun surat-surat itu tak melulu mewartakan berita akbar, bahkan lebih sering berisi beragam hal yang barangkali terdengar sepele, seperti curhatan Kafka yang menghadapi writer’s block berkepanjangan; tetapi semua itu mencerminkan betapa keduanya adalah seorang penulis yang memiliki kepekaan atas realitas dan kemampuan narasi melenakan.
Dua hal itu menegaskan satu hal utama: bahwa surat tak sebatas cara untuk menceritakan hal personal tentang keseharian seseorang semata. Kita bisa membayangkannya sebagai medium yang perlu dan melekat dalam kehidupan seorang penulis. Surat juga bagus sebagai latihan menajamkan cara bernarasi seorang penulis. Mari bayangkan situasi berikut, seorang penulis tinggal di kota tanpa mengenal banyak orang. Ia hanya memiliki seseorang yang bersamanya, ia nyaman bercerita, tetapi orang tersebut tinggal tempat yang berbeda. Padahal, ia ingin menceritakan pengalamannya di kota tersebut; betapa hari-harinya diisi dengan melangsir malam-malam, mengunjungi sekian kafe, mengamati orang dan berbagai hal di sekitarnya. Terlepas fakta bawah penulis ini hidup di era yang sudah memudahkan komunikasi, sebab ia mudah saja menelepon sahabatnya itu, ia ingin mengutarakan hasil pengamatannya dengan cara lain.
Di sini, ia memang menuliskan suratnya sesuka hati. Tapi, ia perlu berpikir dan berusaha sebaik mungkin menggambarkan secara nyata apa-apa yang sudah dilihatnya dalam sebuah tulisan. Dan surat, menuntut narasi yang dominan; di dalamnya, kata-kata menyusun dirinya menjadi paragraf demi paragraf yang membuat pembacanya dapat membayangkan tempat-tempat, aroma-aroma, letak rumah, kondisi jalan, kebiasaan orang-orang, kesepiaan malam, keramaian pagi dan sore hari, serta sekian hal lainnya. Dari situ, surat bisa menjadi arsip atas suatu peristiwa, gambaran zaman, dan hasil pengamatan seorang penulis tentang suatu hal.
Bayangkan lagi keadaan penulis tadi. Suatu sore, saat tengah berjalan-jalan di taman ia mendapati seorang gadis kecil menangis sendirian. Ia pun mendatangi gadis tersebut dan menanyai mengapa ia menangis, apa yang membuatnya sedih? Si gadis, walau agak kaget mendapati orang asing mendatanginya, menjawab kalau ia baru saja kehilangan boneka kesayangannya. Mendengar jawaban itu, penulis kita pun tersenyum dan bilang, “Tak masalah. Bonekamu tidak hilang. Ia hanya sedang berkelana. Besok datang lagilah kemari, nanti aku akan ke kantor pos dan menanyai mereka, apakah bonekamu menitipkan surat untuk diberikan kepadamu.”
Keesokan harinya, si gadis itu datang lagi ke taman dan menemui penulis kita. Si penulis, yang sudah menyiapkan diri memberitahu kalau bonekanya tidak menitipkan surat, tetapi ia meninggalkan pesan kalau ia perlu pergi ke kota sebelah lantaran ia harus pergi. Mendengar itu, si gadis awalnya sangsi, tetapi kemudian ia merespons, ”Baiklah, maka biarkan saja ia berkelana yang jauh. Biar ia bisa melihat dunia lain.” Si gadis mengatakannya dengan kelegaan. Sementara penulis kita, malam harinya menuliskan pertemuan dengan gadis itu dalam surat lain untuk sahabat pena atau kekasihnya. Dengan menuliskan pertemuan itu, ia sama saja mengarsipkan peristiwa unik yang pernah ia alami. Baginya, surat merekam pengalaman itu dan ia menjadikannya sebagai arsip yang kelak bisa dibaca kembali.
Gambaran itu bisa kita lihat dalam diri Kafka. Buku itu menunjukkan bahwa ia rutin menulis surat yang ditunjukkan kepada teman, sahabat, orang tua, dan pasangannya—misalnya Milena. Dari kebiasaan menulis surat tersebut, pemerhati sastra pun yakin bahwa hal itu membantu dalam perkembangan kemampuan menulisnya, terutama dalam hal kemampuan bernarasi. Bahkan, surat-surat yang ditulisnya menjadi bahan kajian yang sama pentingnya sebagaimana karya-karya fiksinya. Keberadaan surat itu pun menegaskan hal lain, bahwa di mata penulisnya, ia menjadi medium pengisahan yang penting; sementara di mata publik, ia menjadi arsip yang tak bisa disepelekan keberadaannya.
Tentang Penulis
Wahid Kurniawan, penikmat buku. Alumnus S1 Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Ilmu Pendidikan, Universitas Teknokrat Indonesia.