Takdir yang Belum Tertulis

Oleh: Annisa Zahira Aulia

Kirana tahu, cinta mereka abadi. Ia hanya… pulang ke tempat di mana cinta itu pertama kali ditanamkan.

Kirana menatap hamparan sawah yang luas dari dalam jendela mobil, “Mas, ini masih lama sampainya, ya?” ucapnya.

Lalu Dharma menjawab “Ya lumayan lah… Kenapa? Kamu mulai bosan ya? Mau ganti lagu?

Tanpa pikir panjang Kirana menganggukkan kepalanya,  ia langsung sumringah saat tahu suaminya itu menyetel lagu Always milik Bon Jovi, mereka bersenandung bersama sambil menyusuri jalan yang terasa asing bagi pasangan yang baru menikah itu. 

Namun, seiring roda mobil melewati gapura kayu yang sudah tua bertuliskan “Selamat Datang di Dusun Rawasari“, suasana perlahan berubah. Jalan aspal berganti kerikil, dan angin yang tadinya hangat mulai terasa dingin hingga menusuk kulit. Di kejauhan, rumah panggung berdinding kayu tua berdiri diam, seperti sedang mengamati mereka yang datang. Rumah nenek Dharma. Sepi. Terlalu sepi untuk tempat yang seharusnya menyambut keluarga.

Mereka melangkah masuk, disambut bau kayu basah serta cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah dinding kayu itu. Lantai papan di bawah kakinya berdenyit pelan. “Nenek?” panggil Dharma pelan, menaruh tas mereka di sudut ruangan. Tak ada jawaban. Hanya suara dedaunan yang tersapu angin. Kirana melirik sekeliling, matanya tertuju pada sebuah lemari kaca besar di ruang tengah. Di dalamnya, berderet buku-buku tua, sebagian nyaris lapuk, sebagian lainnya dibungkus kain putih kekuningan.
Nenek sudah tidur mungkin,” kata Dharma singkat. “Kita istirahat dulu aja.”

Tapi Kirana tak langsung beranjak. Pandangannya tetap tertarik pada sebuah buku yang warnanya lebih gelap dari yang lain. Kulitnya dari kain beludru coklat, dan ada benang emas menjulur seperti tali pembatas. Tak ada judul. Tak ada nama. Membuatnya begitu penasaran. Ia tak mengambilnya, hanya mencatat letaknya dalam hati.

Malamnya, mereka makan malam bersama sang nenek. Perempuan berambut putih itu hanya berkata sedikit. Sesekali menatap Kirana dengan tatapan yang sulit ditebak, bukan tatapan tidak suka, lebih seperti sedang mengukur jarak.
Kirana berhenti mengunyah. Dadanya mulai terasa aneh, bukan takut, hanya… tidak nyaman.

Malam itu, Kirana terbangun karena mendengar suara seperti ada logam jatuh. Ia bangkit dari tempat tidur mereka, berjalan pelan menuju ruang tengah. Lemari tua itu masih berdiri diam, namun satu pintunya terbuka sedikit. Tangannya menyentuh buku bersampul beludru coklat itu dan membuka halaman pertamanya. Ada tulisan tangan memenuhi halaman pertama, bahasa Jawa halus yang sebagian tak ia mengerti, namun di bagian bawah ada kalimat dalam bahasa Indonesia: “Jika darah pulang dan membawa cintanya, maka rumah ini tak akan membiarkannya pergi lagi.”

Kirana memejamkan mata. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia langsung bergegas kembali ke kamar dengan membiarkan buku itu jatuh di lantai. Kirana ingin memberitahu suaminya, namun ia tidak tega membangunkannya saat melihat Dharma yang tertidur pulas setelah perjalanan panjang.


Sinar matahari memasuki kamar dan udara pagi membuat hidung Kirana dingin. Beranjak dari tempat tidur, ia langsung memeriksa lemari kaca besar di ruang tengah. Tak ada buku yang jatuh, semuanya tersusun rapi. Kirana terpaku karena buku yang semalam ia buka… tidak ada. Langkah kaki terdengar dari arah belakang, Kirana menoleh cepat. 

Sang suami tersenyum menghampirinya dan bertanya “Kamu lagi ngapain, Sayang?” raut wajah cemas Kirana membuat Dharma bertanya-tanya.
Mas, aku mau ngomong…” ucapnya.

Wajah Dharma pucat setelah mengetahui kebenaran itu dari istrinya. Bukannya ia tak tahu tentang hal ini, menurutnya itu adalah masa lalu yang perlu dibuang dari hidupnya. Ia langsung menghibur Kirana alih-alih berkata jujur kepadanya. Hingga beberapa malam terakhir ini Kirana selalu terbangun dari tidurnya karena bermimpi buruk ataupun rasa tak nyaman yang memenuhinya. Dharma yang menyadari hal tersebut akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota.


Sudah seminggu sejak mereka kembali ke rumah namun perasaan Kirana masih saja seperti saat ia sedang berada di rumah tua itu. Ditambah Dharma yang tiba-tiba sakit parah namun menurut diagnosa dokter ia tidak memiliki penyakit apapun. Tubuh suaminya itu perlahan merapuh, seperti direnggut oleh sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh nalar atau ilmu kedokteran. Sungguh aneh.

Dharma kini terbaring lunglai di ranjang rumah sakit, kulitnya pucat tak pernah tersentuh matahari lagi. Kirana tahu. Ada yang tidak beres. Ia merasa suaminya menyembunyikan sesuatu darinya. Di sisi ranjang itu, Kirana duduk dengan mata yang tak pernah terpejam. Tatapannya terpaku pada langit-langit kamar. “Apakah ini kutukan?” ucap Kirana sambil membendung air mata yang segera keluar.

Saat detik-detik terakhirnya, Dharma membuka matanya memandangi dan menggenggam tangan Kirana dengan erat. Seperti tak ingin ada sesuatu yang memisahkannya dengan orang tercintanya itu. Suaranya bergetar, “Maafkan aku. Sayangku. Ini adalah satu-satunya cara agar kau bebas.
Kirana tak mampu mengeluarkan kalimat apapun, perpisahan ini sangat menusuk hatinya dan membuat luka yang begitu dalam bagi diri Kirana. Namun, mau tak mau Kirana harus rela melepaskan kepergian suaminya yang tercinta.


Sebulan kemudian, Kirana kembali ke rumah tua milik neneknya Dharma, membuka buku bersampul beludru coklat itu dan menemukan halaman baru yang tak ada sebelumnya. Tulisan itu adalah milik Dharma untuknya: “Untukmu, yang kucintai lebih dari hidupku, aku lepaskan kau agar kau bebas dari bayang-bayang yang membelenggu kita. Cintaku akan selalu mengiringi langkahmu.” Kirana menutup buku itu bersamaan dengan tubuhnya yang meloncat dari kursi dengan kain jarik yang mengalungi lehernya. Rumah tua itu menelan satu rahasia lagi.


Tentang Penulis: Annisa Zahira Aulia lahir di Bandar Lampung pada 16 Juni 2006. Ia merupakan mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia. Di kesehariannya, Zahira gemar menonton film, terutama bergenre misteri yang menantang rasa penasaran. Sejak kecil, ia terbiasa menulis untuk menuangkan pikiran dan perasaannya. Kebiasaan itu terus ia pertahankan hingga kini, sebagai cara untuk memahami dan tetap terhubung dengan dirinya sendiri.

Instagram: @whereisjeii

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *