Mengukir Jendela Dunia di Meja Redaksi, Mengapa Buku Terjemahan Tak Boleh Terasa “Asing”?

Oleh : Deni Febriansyah

Pernahkah kita memegang sebuah buku terjemahan dan merasa kalimatnya begitu luwes, seperti sang penulis aslinya memang sedang mengobrol dengan kita di sebuah kafe di Jakarta? Ada kenyamanan yang ganjil saat kita membaca teori sains yang rumit atau cerita anak yang imajinatif, namun tidak merasa sedang “bertamu” ke kebudayaan orang lain. Di balik keajaiban itu, ada dapur yang sangat sibuk. Di sebuah perusahaan penerbitan dan distribusi buku-buku impor terkemuka di Indonesia, proses ini bukan sekadar urusan memindahkan kata dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia menggunakan kamus tebal. Di sana, terjadi sebuah praktik yang dalam dunia akademik disebut sebagai Sosiologi Penerjemahan.

Di Balik Meja Redaksi

Jika kita membedah isi kepala para awak di divisi publishing perusahaan penerbitan, kita tidak hanya akan menemukan aturan tata bahasa, melainkan juga peta sosial masyarakat Indonesia. Penerjemahan dalam konteks ini adalah sebuah tindakan sosial yang nyata. Mengapa? Karena sebuah buku tidak pernah lahir di ruang hampa. Ia harus berhadapan dengan guru yang punya gaya mengajar tertentu, orang tua dengan standar moral khusus, hingga kurikulum pemerintah yang sangat spesifik. Di sinilah teori sosiologi bekerja: para editor dan penerjemah memiliki apa yang disebut sebagai habitus, semacam insting tajam yang lahir dari jam terbang tinggi memahami denyut nadi pendidikan di Indonesia. Mereka tahu kapan sebuah istilah harus tetap dipertahankan demi menjaga wibawa ilmiah, dan kapan ia harus “dijinakkan” agar tidak membuat kening siswa berkerut.

Alur kerja di divisi publishing penerbit buku impor sebagai contohnya, sebenarnya adalah sebuah proses “negosiasi kebudayaan” yang panjang. Tahap pertama bukanlah menerjemahkan, melainkan kurasi atau penyaringan. Tim akuisisi berperan sebagai gatekeeper (penjaga gerbang). Mereka memindai ribuan judul dari luar negeri dan bertanya: “Apakah nilai-nilai dalam buku ini relevan bagi anak Indonesia?” Ini adalah seleksi sosiologis yang ketat.

Tidak semua yang populer di London atau Singapura otomatis cocok untuk meja belajar di Surabaya atau Medan. Perusahaan memastikan bahwa konten yang masuk ke pasar Indonesia adalah konten yang secara sosial dapat diterima, namun secara intelektual tetap menantang.

Pertempuran di Meja Editor

Setelah naskah terpilih, “pertempuran” sesungguhnya berpindah ke meja editor. Di sinilah terjadi ketegangan antara strategi domestikasi dan foreignisasi. Sering kali, perusahaan memilih jalan domestikasi yang elegan. Bayangkan seorang editor menghadapi naskah matematika yang menggunakan contoh “suhu di bawah nol derajat saat musim dingin”. Bagi siswa di negara tropis, perumpamaan ini mungkin terasa abstrak.

Maka, sosiologi penerjemahan bekerja: perlukah contohnya diganti dengan es batu di dalam gelas, atau tetap dipertahankan dengan catatan kaki? Keputusan ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan upaya agar ilmu pengetahuan tersebut, berdasarkan modal kultural sang penerjemah, terasa berguna, dekat, dan tidak mengintimidasi.

Namun, proses ini tidak dilakukan oleh satu orang saja. Alur kerja mereka adalah sebuah jaringan aktor yang dinamis. Dari penerjemah yang membuka pintu bahasa, editor yang menyelaraskan rasa, hingga tim layout yang memastikan visual buku tidak menabrak sensitivitas lokal. Semuanya bergerak dalam satu irama untuk memastikan buku tersebut memiliki “nilai tukar” yang tinggi di ranah pendidikan.

Mereka memastikan bahwa buku terjemahan tersebut tidak terlihat seperti “benda asing” yang dipaksakan masuk, melainkan seperti sahabat lama yang membawa kabar baru dari belahan dunia lain. Tim distribusi pun berperan penting, memastikan bahwa narasi yang sudah dilokalkan ini sampai ke tangan yang tepat pada waktu yang tepat.

Refleksi Sosiologis Penerbitan

Melalui pendekatan sosiologis ini, perusahaan penerbitan dan distribusi buku impor tersebut sebenarnya sedang melakukan diplomasi literasi. Mereka mengambil “emas” pengetahuan global, lalu membentuknya kembali dengan cetakan lokal agar bisa dinikmati oleh generasi muda kita tanpa kehilangan jati diri. Penerjemahan, di tangan mereka, menjadi seni meruntuhkan menara Babel tanpa harus meratakan perbedaan budaya. Pada akhirnya, setiap buku terjemahan yang kita baca adalah bukti bahwa pengetahuan tidak mengenal batas negara, selama ada tim redaksi yang cukup jeli untuk menjahit setiap kalimatnya dengan benang kebudayaan yang tepat.

Jadi, saat kita tengah membolak-balik halaman buku impor, ingatlah bahwa ada sepasukan “diplomat bahasa” di balik meja redaksi yang sudah berjuang memastikan bahwa, meski ilmunya datang dari jauh, ia tetap berbicara langsung ke hati dan pikiran kita sebagai orang Indonesia. Buku itu adalah sebuah jembatan, dan para pegiat literasi di dalamnya adalah arsitek yang memastikan jembatan tersebut cukup kokoh dan nyaman untuk kita seberangi setiap hari.


Bionarasi Penulis:

Deni Febriansah adalah alumnus Program Studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, dan saat ini sedang menempuh pendidikan pada Program Magister Bahasa Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia. Secara profesional, ia berkarier sebagai Marketing Supervisor di Mentari Books Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan buku-buku English Language Teaching (ELT), termasuk produk dari penerbit internasional seperti Cambridge, Oxford, Marshall Cavendish Education lainnya. Peran ini telah membentuk kompetensinya dalam komunikasi bisnis, pengembangan jaringan kerja sama pendidikan, serta strategi distribusi bahan ajar Bahasa Inggris. Pengalaman tersebut memperkuat keterkaitannya antara dunia industri dan pendidikan, khususnya dalam penyediaan sumber belajar yang berkualitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *