Puisi-Puisi Nurul Arifah

Oleh: Nurul Arifah

Janda Bolong

kau tumbuh
tanpa utuh

daunmu
menyisakan ruang
bagi angin
untuk lewat
tanpa izin

orang-orang menyebutmu indah
karena yang hilang

aku diam—
lama

lalu mengerti

barangkali
yang indah bukan tentang utuh
tapi tentang
apa yang tetap tinggal
meski telah hilang

Sabtu, 14.00


Pergi, Katanya

aku tidak benar-benar pergi
hanya
menggeser diriku
sedikit lebih jauh
dari cara mereka memanggil asal

di sini
namaku terdengar lengkap
tanpa tambahan:
“oh… dari sana ya?”

(aku belajar menghapus nada itu
pelan-pelan
dari kepalaku sendiri)

logatku
aku lipat
rapi
disimpan di saku yang jarang tersentuh

kadang hampir terjatuh
saat aku lupa
harus jadi siapa
di depan siapa

aku kira
pergi itu tentang jarak

ternyata
tentang memilih
bagian mana dari diri sendiri
yang boleh hidup

dan bagian mana
yang cukup
jadi kenangan
yang tidak disebut-sebut

aku diakui
katanya

tapi aneh—
kenapa rasanya
seperti ada yang tertinggal?

Bandar Lampung, 2026


yang Tak Sempat Kecil 

masa kecilku
ditarik oleh waktu
seperti akar muda
yang belum rela lepas dari tanah

ia menangis—
tapi tak ada suara
yang boleh tinggal

di pundakku
umur duduk lebih cepat
dari yang seharusnya
menepuk-nepuk pelan,
seolah berkata: sekarangaku menjadi rumah
bagi hal-hal yang belum kupahami


Bionarasi Penulis: Nurul Arifah, gadis kelahiran 2003. Sang penikmat alam dan tulisan. Karya-karyanya turut hadir dalam sejumlah antologi, diantaranya Rose Giggles (antologi cerpen, 2024), Tanah Pijak Bernama Lampung (antologi puisi, 2024), Sepiring Nasi di Kloset (antologi puisi esai mini, 2024), The Endless Blue (antologi Puisi, 2025), dan Kota Kelabu (antologi puisi, 2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *