Kucing Hitam

(Edgar Allan Poe, 1843)
Diterjemahkan dari cerpen berjudul ” Black Cat oleh Muthia Afifah

Cerpen terjemahan ini tergabung dalam kumpulan cerpen terjemahan Inggris-Indonesia berjudul “Kisah Satu Jam: Antologi Cerpen Terjemahan Kesusastraan Inggris” terbitan Literation tahun 2026


Ajalku tiba besok. Karena besok aku mati, maka hari ini, aku harus menceritakan segalanya pada dunia. Agar beban ini lepas dari jiwaku.

Tapi dengarkan! Coba dengarkan, dan kalian akan tahu bagaimana aku akhirnya hancur. Sejak kecil, aku sebenarnya punya jiwa yang baik dan membawaku untuk menyayangi hewan, semua jenis hewan, terutama hewan-hewan peliharaan, hewan yang sudah belajar hidup bersama manusia dan tinggal bersama dengan mereka. Cinta hewan itu langsung terasa di hati, terutama bagi mereka yang sudah merasakan betapa mudahnya cinta sesama manusia berubah.

Aku menikah di usia yang cukup muda. Dan aku senang sekali rasanya ketika ternyata istriku juga sama-sama menyayangi hewan. Dia pun segera mengisi rumah kami dengan berbagai hewan peliharaan. Kami memelihara burung, ikan mas, seekor anjing yang setia, dan seekor kucing.

Kucingku cantik sekali, badannya sangat besar dan warnanya hitam legam. Aku beri nama Pluto, dan dialah hewan peliharaan favoritku. Aku sendiri yang selalu memberi dia makan, dan dia selalu mengikutiku kemanapun di rumah. Sampai-sampai, aku sering kewalahan untuk menjaganya agar tidak ikut ke luar rumah.

Persahabatan kami terus berlangsung seperti itu selama bertahun-tahun, namun selama kurun waktu itu juga, sifatku sendiri berubah sangat drastis. Aku mulai kecanduan minum anggur dan minuman keras lainnya. Hari demi hari, sikapku semakin dingin. Aku jadi mudah marah, dan lupa cara tersenyum maupun tertawa. Istriku, bahkan juga hewan-hewan peliharaanku, kecuali si kucing merasakan betul perubahan sifat burukku ini.

Pada suatu malam, aku pulang larut malam dari tempat mabuk-mabukan. Dengan langkah sempoyongan, dengan susah payah, akhirnya aku berhasil juga masuk ke dalam rumah. Saat aku masuk, aku melihat atau merasa melihat Pluto, si kucing, berusaha menjauhi jalanku untuk menghindariku. Tindakan ini, dari hewan yang selama ini kupikir masih mencintaiku, membuatku marah tak terkendali. Rasanya jiwa keluar dari tubuh. Aku mengeluarkan pisau kecil dari mantelku dan membukanya. Kuraih leher si kucing yang malang itu dan dalam sekejap kucongkel salah satu matanya yang dipenuhi ketakutan itu.

Secara perlahan, kucing itu mulai terdiam.  Memang, lubang bekas matanya itu bukanlah pemandangan yang enak dilihat. Tapi, setidaknya dia tak lagi tampak merasakan sakit. Sudah pasti, dia selalu lari ketakutan kalau aku mendekat. Memang ada alasannya, tapi itu tetap membuatku kesal. Aku merasa ada perasaan baru yang tumbuh dalam diriku. Siapa yang tak pernah, berkali-kali, mendapati dirinya berbuat salah atau melakukan keburukan, tanpa alasan lain selain karena ia tahu itu dilarang?  Bukankah kita sebagai manusia selalu terpancing untuk melanggar aturan, justru karena kita tahu aturan itu ada?

Kemudian, dengan tenang, kuikat tali kuat di leher kucing itu dan ku gantung di balok kayu di gudang bawah tanah. Kubiarkan dia tergantung sampai mati. Dengan mata berkaca-kaca, kugantung dia di sana,  kugantung karena ia telah mencintaiku, karena ia tak beralasan kusakiti, karena kusadari perbuatanku ini adalah dosa yang sangat besar hingga akan menjauhkan jiwaku dari jangkauan kasih Tuhan untuk selamanya!

Pada malam yang sama, ketika aku sedang tidur, kudengar teriakan tetangga-tetangga kami melalui jendela yang terbuka. Aku pun melompat dari ranjang dan mendapati seluruh rumah telah dipenuhi api. Dengan susah payah, aku dan istriku berhasil melarikan diri. Begitu berhasil keluar, kami hanya bisa berdiri dan menonton rumah kami terbakar hingga rata dengan tanah. Kami hanya bisa berdiri dan menonton rumah itu terbakar hingga rata dengan tanah. Aku teringat pada si kucing saat menyaksikan rumahku terbakar, kucing yang mayatnya kutinggalkan tergantung di gudang bawah tanah. Rasanya, seolah-olah si kucing dengan cara misterius telah membakar rumah ini sebagai balas dendam, hukuman atas perbuatan keji diriku.

Beberapa bulan berlalu, tapi bayangan si kucing itu tak kunjung hilang dari pikiranku. Suatu malam, seperti biasa, aku duduk minum di bar. Tiba-tiba, kulihat suatu benda gelap di sudut yang sebelumnya tak ada. Aku mendekat untuk melihat apa itu. Ternyata itu adalah seekor kucing yang sangat mirip dengan Pluto. Kuraba punggungnya dengan lembut. Dia langsung menanggapi dengan mengusapkan punggungnya ke tanganku.

Seketika itu juga, aku merasa sangat ingin memelihara kucing itu. Aku menawar untuk membelinya dari pemilik bar, tapi dia mengaku belum pernah melihat hewan itu sebelumnya. Saat aku pergi, kucing itu mengikutiku, dan kubiarkan saja. Tak lama kemudian, dia pun menjadi peliharaanku dan istriku.

Keesokan harinya setelah aku membawa kucing ini pulang, aku menemukan bahwa kucing ini, seperti Pluto, juga hanya memiliki satu mata. Kok bisa ya aku tidak menyadarinya semalam? Justru keadaan ini malah membuat istriku semakin sayang pada si kucing. Namun, aku sendiri merasakan kebencian yang bertumbuh dalam diriku. Rasa tidak suka yang kian membesar ini justru seolah membuatnya semakin mencintaiku. Kucing ini mengikutiku ke mana pun, selalu. Saat aku duduk, ia merebahkan diri di bawah kursiku. Saat aku berdiri, dia menyelip di antara kakiku sampai hampir membuatku terjatuh. Ke mana pun aku pergi, dia selalu ada. Bahkan di malam hari, aku bermimpi tentangnya. Perlahan, kubenci sekali kucing itu! Suatu hari istriku memanggil dari gudang bawah tanah rumah tua kami. Waktu aku menuruni tangga, si kucing yang selalu mengikutiku berlari melewati kakiku dan nyaris membuatku jatuh.

Dengan luapan emosi yang tak terbendung, aku meraih pisau dan menyerang kucing itu dengan brutal. Istriku berusaha menahan tanganku. Tetapi ini malah membuatku semakin murka. Tanpa berpikir, ku balik badan dan tusuk pisau itu tepat ke jantungnya! Dia jatuh dan langsung tewas di tempat.

Kucari-cari si kucing, tapi dia sudah kabur. Aku juga harus buru-buru menangani mayat istriku. Lalu, kulihat sebuah spot di dinding gudang yang tampak seperti perapian tua yang sudah ditutup dengan batu. Dinding itu ternyata tidak dibangun dengan kuat, sehingga batu-batunya dapat kulepaskan dengan mudah. Di baliknya, persis seperti yang kuduga, terdapat sebuah lubang yang ukurannya tepat untuk menyimpan mayat. Dengan susah payah, kumasukkan mayat itu ke dalam, lalu kutaruh kembali batu-batunya dengan rapi. Aku puas karena hasilnya rapi sekali, mustahil bagi siapa pun untuk tahu bahwa ada batu yang pernah dilepas.

Hari-hari berlalu. Si kucing tetap tidak muncul. Beberapa orang datang menanyakan istriku, tapi dengan mudah ku beri jawaban. Hingga suatu hari, beberapa petugas polisi datang. Karena yakin mereka tidak akan menemukan apa-apa, ku persilahkan mereka masuk dan dengan tenang menemani mereka berkeliling.

Akhirnya, mereka menggeledah ruang bawah tanah dari ujung ke ujung. Ku lihat mereka dengan tenang dan seperti dugaanku, mereka tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Tapi, saat mereka mulai menaiki tangga, sebuah dorongan aneh dari dalam hatiku memaksaku untuk memberitahu mereka, untuk membuat mereka paham, bahwa akulah yang memenangkan pertarungan ini.

Dinding gedung ini,” kataku, “dibangun dengan sangat kokoh, ini rumah tua yang bagus.” kataku sambil mengetuk-ngetuk tongkat persis di titik mayat istriku disembunyikan. Langsung kurasakan sensasi dingin menjalar di sekujur tubuh ketika sebuah tangisan yang menyeramkan terdengar memancar dari dalam dinding. Para polisi terdiam sejenak, saling memandang. Kemudian mereka segera membongkar susunan batu tersebut, dan tak lama kemudian terbentanglah di hadapan mereka mayat istriku yang sudah menghitam karena darah yang mengering serta mengeluarkan aroma yang sangat busuk.

Dan di atas kepalanya, duduk si kucing dengan satu bola mata menyala-nyala dan mulut terbuka lebar berwarna merah darah, meneriakkan balas dendamnya!


Bionarasi Penulis:
Edgar Allan Poe (1809–1849) adalah seorang penulis, penyair, dan kritikus sastra Amerika. Ia dikenal luas sebagai tokoh cerita detektif modern dan pelopor fiksi horor-misteri. Ia juga dikenal sebagai pengusung estetika makabre (macabre) yang menjadikan kematian, pembusukan, dan hal-hal mengerikan sebagai pusat daya tarik artistik.


Bionarasi Penerjemah :
Muthia Afifah, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia. Ia memiliki ketertarikan dalam membaca manga yang menginspirasinya untuk menulis karya sastra kreatif. Ia pernah meraih juara ketiga dalam lomba puisi pada festival fakultas di universitasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *