Puisi-Puisi Nurul Arifah

Januari Dingin

di ruang ini, aku merasa waktu membeku
detik menekan; bisikmu dulu, menyesakkan
terperangkap aku, di balik dinding kenangan.

jarum jam berdenting pilu
langkahmu jauh, kucoba ikuti jejak
di lorong sunyi; kata tercabik ego yang tinggi

di sudut ruangan temaram
kenangan terlipat seperti kemeja tua
dengan kancing yang nyaris tanggal

aroma tanah basah menyusup perlahan
membawa cerita tentang hujan pertama
yang dulu menyeka peluh masa lalu

dalam Januari dingin menusuk
kemeja lusuh kupeluk erat
berharap noda dosa luruh dan sirna
bilik ini menelanku. penyesalan mencengkram
suara-suara amarah surut perlahan
tinggalkan tragedi berkarat di relung jiwa.

letih tergesa, kurapikan sisa waktu
kancing lepas, kemeja tak terpakai, bisu
maaf kusimpan ke dalam saku usang
menanti hadirmu meski semu


Ada yang Hilang

di ruang tengah
tawa itu masih nyaring di telinga
sepotong roti di tangan
kubuang percuma

aku membuka pintu kayu sepuh
menyaksikan pohon dihajar angin
daun-daunnya berserakan

lalu, langit jatuh. satu tetes, dua tetes
mulai menyapa tanah
tanah yang rindu bau basah.
aku pernah ada di sana; menjadi bocah
yang berlarian kesana kemari
mengejar genangan
kaki telanjang tanpa beban

namun, pintu itu kini terkunci dari luar
tubuhku tak lagi pulang
aku bisu pada masa dewasa


PULANG

di perut kota yang bising
aku hanyalah sepasang kaki
yang lupa tanda jalan menuju
rumah.

suara angin menyusuri kenangan
yang tertinggal di sela pintu.
aroma tanah basah, menyapa hangat
di tengah hiruk-pikuk waktu

di jalan berliku panggilan itu datang lagi
halus seperti bisikan

pulang.
adalah binar di mata ibu
yang lebih terang dari lampu kota.
pulang.
adalah tangan ayah yang kasar
tapi paling lembut saat menjaga

sekarang aku melipat rindu, ke dalam lemari tua


Biografi Singkat Penulis: Nurul Arifah, gadis kelahiran 2003. Sang penikmat alam dan tulisan. Karya-karyanya turut hadir dalam sejumlah antologi, diantaranya Rose Giggles (antologi cerpen, 2024), Tanah Pijak Bernama Lampung (antologi puisi, 2024), Sepiring Nasi di Kloset (antologi puisi esai mini, 2024), The Endless Blue (antologi Puisi, 2025), dan Kota Kelabu (antologi puisi, 2026).

2 Comments

  1. puisi ini mengingatkan kita pada masa kecil,juga sebagaian mengingatkan kepada seorang anak rantau atau anak kos untung pulang ke rumah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *