Peran Para Agen dalam Arena Sastra Dunia

Oleh: Destia Ayu Jomalda

Perbincangan tentang kesusastraan dunia tentunya tak bisa terlepas dari bagaimana sebuah karya sastra bisa melewati batasan-batasan bahasa, budaya, serta negara. Dalam proses ini, yang kerap menjadi fokus perhatian hanya pencipta karya atau penulisnya saja. Namun di balik itu semua, ada banyak agen sastra lain yang turut berkontribusi untuk membantu karya tersebut menjadi dikenal di panggung dunia.

Berdasarkan perkembangan sastra dunia, agen sastra bukan hanya merujuk kepada individu, tetapi juga kepada entitas yang lebih luas, dengan melibatkan penulis, penerjemah, penerbit, kritikus, lembaga, bahkan pembaca. Semua turut serta dalam membrikan pengaruh terhadap perjalanan sebuah karya dari tahap produksi hingga diterima secara global. Oleh karenanya, pemahaman mengenai sastra dunia harus menyentuh pemahaman tentang segala hal yang berkaitan dalam proses terciptanya karya sastra itu sendiri, termasuk peran para agen di dalamnya.

Salah satu contoh yang sangat jelas adalah peran penerjemah. Seperti yang dinukil dari artikel yang ditulis oleh Seno Kardiansyah pada majalah Bastera (edisi desember 2024), penyebaran karya sastra Indonesia ke pasar dunia tidak bisa dilepaskan dari peran mediator, yakni penerjemah. Pandangan itu sejalan dengan pendapat David Damrosch, yang menyatakan bahwa suatu karya dapat dinyatakan bagian dari kesusastraan dunia ketika karya tersebut sudah beredar di luar lingkungan budaya aslinya. Dalam hal ini, beredarnya karya tersebut tentunya tidak akan mungkin tanpa adanya mediator yang membantu proses transfer bahasa dan makna.

Namun demikian, dari sudut pandang lain Franco Moretti turut menjelaskan bahwa sistematika yang berlaku pada arena sastra dunia tidaklah seimbang. Hal itu disebabkan adanya perbedaan di antara yang pusat (core) dan pinggiran (periphery). Sistem ini mengindikasikan bahwa agen-agen yang berasal dari negara-negara pusat (baca: Eropa dan Amerika) memiliki otoritas lebih kuat dalam memilih karya-karya yang layak dipublikasikan dan didistribusikan secara internasional. Hal ini mengindikasikan bahwa agensi dalam arena sastra dunia tidaklah netral, namun dipengaruhi oleh dinamika relasi kekuasaan yang timpang.

Dalam situasi seperti ini, agen-agen seperti halnya penulis dan lembaga sastra berperan penting sebagai legitimating agency yang berperan sebagai penjaga gerbang selera dalam arena sastra dunia. Lewat mekanisme seleksi, produksi, dan promosi yang berlaku secara konvensional, mereka mengidentifikasi karya-karya mana yang berpotensi mendapat perhatian internasional. Lembaga penganugerahan seperti Nobel Prize in Literature misalnya, merupakan salah satu bentuk bagaimana suatu lembaga bisa meningkatkan visibilitas sebuah karya di seluruh dunia. Namun, jika merujuk pada pandangan Moretti, perlu diingat hal itu juga memperlihatkan adanya standar selera tertentu yang sering kali berpihak kepada perspektif Barat.

Guna mendedah problematika itu, pandangan Pierre Bourdieu mengenai arena produksi kultural dilihat mampu memaparkan lebih jauh mengenai interaksi agen dalam konteks arena kesusastraan dunia. Dalam kerangka berpikirnya, Bourdieu melihat masing-masing agen kerap mencoba mengumpulkan modal (e.g. modal ekonomi atau simbolik) untuk berpraktik dan berinteraksi dalam ruang sastra tertentu. Seperti halnya penulis membutuhkan penerjemah dan penerbit dalam tataran produksi hingga distribusi, penerbit membutuhkan pasar pembaca, dan kritikus menawarkan legitimasi sehingga memperkuat posisi karya dalam diskursus kanon sastra. Sehingga semuanya memiliki peran dan kontribusi yang saling berkaitan dalam membentuk struktur arena sastra dunia.

Selain itu, pandangan-pandangan poskolonialisme juga berpotensi memberikan pendekatan yang lebih kritis dalam melihat peran agen sastra dunia. Konsep Third Space yang dikemukakan oleh Homi K. Bhabha misalnya, dapat menunjukkan bahwa identitas budaya tidak statis, melainkan dinamis dengan cara mendorong terjadinya proses negosiasi antar-budaya. Melalui mekanisme tersebut, agen sastra seperti halnya penerjemah bukan hanya sekadar mediator, melainkan penafsir baru bagi karya yang akan tersirkulasi di kancah internasional. Dalam sudut pandang ini, peran agen sastra dunia diyakini dapat mewujudkan suatu produk kreatif yang dihasilkan karena pengalaman transkultural, di mana teks tidak lagi mengekspresikan satu identitas saja, melainkan memiliki kualitas hibrid yang terjadi karena pertemuan antar-budaya.

Peran penting para agen dalam mendorong karya sastra Indonesia untuk masuk ke kancah internasional dapat ditemukan dalam karya-karya penulis seperti Eka Kurniawan dan Norman Erikson Pasaribu. Populernya Eka Kurniawan dan Norman Erikson Pasaribu tidak hanya karena kualitas karyanya, melainkan juga karena agen sastra terjemahan dan agen publikasi yang berhasil membuatnya dikenal lebih jauh di dunia. Tanpa ada proses terjemahan dan promosi yang baik, karya tersebut mungkin tidak akan pernah dikenal. Kedua penulis ini membawa nama Indonesia ke kancah international melalui karya Man Tiger (masuk daftar panjang Man Booker International Prize 2016) dan Happy Stories, Mostly (masuk daftar panjang The International Booker Prize 2022), dan pencapaian tersebut tidak dapat terlepas dari peran penting sang penerjemah yaitu Labodalih Sembiring dan Tiffany Tsao.

Kendati demikian, harus diakui bahwa tidak semua karya mendapat peluang yang sama untuk menjadi bagian dalam arena sastra dunia. Pascale Casanova turut menegaskan bahwa ranah sastra global masih berada di bawah dominasi pihak tertentu yang menjadi penentu status dan nilai sebuah karya. Dalam hal ini, banyak karya yang berasal dari negara berkembang (baca: pinggiran/periphery menurut Moretti) yang tidak mendapat cukup banyak penghargaan, padahal kualitas karyanya tidak kalah dengan karya lain.

Ketika dilihat dari sudut pandang Indonesia, peran agen semakin menjadi penting mengingat keterbatasan akses terhadap pasar global. Penerjemah, penerbit, dan lembaga budaya memegang peran penting dalam mempopulerkan karya-karya sastra Indonesia ke kancah global. Selain faktor sumber daya manusia, kemajuan teknologi digital juga telah berubah menjadi bagian penting dalam landscape peran agen dalam arena sastra dunia. Platform daring seperti Wattpad dan sebagainya telah memungkinkan para penulis untuk menjangkau pembaca global secara langsung tanpa harus melewati proses penerbitan yang konvensional. Kondisi ini memungkinkan penulis-penulis dengan beragam latar belakang untuk mendapatkan pengakuan secara internasional. Hanya saja, pada saat yang sama, algoritma dan logika pasar digital juga telah menciptakan sebuah bentuk dominasi baru yang perlu diejawantahkan secara lebih jauh.

Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa agen dalam arena sastra dunia bukanlah entitas tunggal yang mampu berdiri sendiri. Agen dalam pengertian ini merupakan sistem kompleks yang terdiri dari berbagai aktor yang memiliki beragam peran serta kepentingan yang berbeda-beda. Agensi bukan saja tentang siapa yang membuat karya tersebut, tapi juga siapa yang memiliki kuasa untuk mendistribusikan, menerjemahkan, dan memberikan makna terhadap karya tersebut. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa perjalanan suatu karya sastra untuk bisa tampil di panggung global bukanlah merupakan proses yang sederhana. Ia membutuhkan interaksi dari berbagai kekuatan sosial, budaya, serta ekonomi yang saling mempengaruhi satu sama lain. Maka, apresiasi atas suatu karya sastra dunia harus diberikan tidak hanya bagi penulis, tetapi bagi para agen-agen yang berkontribusi di belakang layar.

Biografi Penulis:

Destia Ayu Jomalda memiliki minat besar dalam bidang sastra dan kajian budaya. Ia adalah alumnus program studi S1 Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Ilmu Pendidikan, Universitas Teknokrat Indonesia, dan saat ini sedang menempuh pendidikan pada program studi S2 Bahasa Inggris (konsentrasi sastra Inggris) di kampus yang sama, sambil aktif menulis berbagai karya ilmiah, khususnya yang berkaitan dengan feminisme dan sastra dunia.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *