Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Oleh: M. Aldi Fathur

Senin, 1 Mei.
Malam ini terasa sunyi. Tidak ada tanda kehidupan dari dalam sel penjara. Cahaya seakan sudah menyerah menyinari koridor.
Hari-hariku berlalu seperti biasa; banyak pengunjung datang dari berbagai macam profesi. Mulai dari pengacara, psikiater, bahkan seorang mahasiswi dari Universitas Indonesia yang sedang menulis disertasi untuk penelitiannya.
Berapa kali aku mengatakan kepada mereka bahwa cahaya yang mencoba menyinari bangunan ini tidak sempurna. Cahaya di sini datang dari sudut yang salah. Tanpa pertimbangan, tanpa kesadaran, tanpa keyakinan tentang apa yang seharusnya diperlihatkan dan dibiarkan gelap.
Mungkin kau mengira aku sedang membual.
Tidak! Aku sedang menjelaskan fundamental seni.
Cahaya adalah jantung seni. Cahaya yang buruk tidak hanya membuat sesuatu terlihat buruk, ia bisa menghilangkan esensinya sendiri.
Sekarang waktu sudah menunjukkan jam 12 malam. Aku tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk menjelaskan hal yang tidak mungkin diminati banyak orang. Lebih baik aku bercerita mengapa aku bisa terjebak di neraka ini.
Aku lahir di Den Haag, bulan November, tahun 1917. Ayahku adalah seorang kolektor lukisan Flemish dan ibuku adalah wanita berdarah Sunda. Ibuku mempercayai keindahan adalah hal ilahi, sedangkan ayahku mempercayai semua materi adalah seni.
Saat aku belum menyentuh pubertas, pada usia sembilan tahun lebih tepatnya, ibu memperkenalkan tempat di mana aku menulis buku catatan ini. Ayahku bilang tempat ini awalnya Batavia tapi berubah nama menjadi Jakarta. Masa kecilku dihabiskan dengan mempelajari bahasa Indonesia, lingkungannya, bahkan rumah yang ayahku beli.
“Menteng is een goede plek voor Elias om op te groeien. Ik ben van Nederlandse afkomst en jij komt uit Indonesië. We kunnen hem niet in Nederland laten opgroeien als iemand van gemengde afkomst. Hij zou zich daar een vreemde voelen.” Ayah mengatakannya kepada ibu dengan nada lembut saat kami menginjak halaman depan rumah putih itu.
Rumah bertingkat itu mengingatkanku dengan rumah yang lama, halamannya membentang dari timur ke barat. Di bagian sampingnya sengaja dibiarkan kosong karena ibu ingin memiliki kebun pribadi. Semua sisi diberi besi panjang dan tipis, ujung atapnya menjulang tinggi.
Ibu memberiku kamera sebagai hadiah ulang tahun kesepuluh karena sudah menuruti mereka untuk berpindah halaman. “Nak… Saat kamu tumbuh besar nanti, kamu bakal sadar kalau dunia ini sangat indah, terutama Indonesia,” bujuknya.
Ibu tidak pernah berbohong, jadi aku langsung percaya dengan kalimatnya. Tapi ada satu hal yang belum pernah ia coba jelaskan—tentang keindahan.
Keindahan tidak pernah memilih untuk menjadi indah, ia hanya ada atau tiada. Tugas seorang fotografer bukanlah menciptakannya, mengaturnya, atau memintanya untuk selalu hadir. Tugas seorang fotografer adalah mengabadikan keindahan yang muncul tanpa peringatan dan persiapan dalam momen yang tak akan terulang kedua kalinya.
Apakah itu sudah cukup untuk sebuah pengenalan? Karena ini pertama kali aku menulis.
Orang-orang di luar sana kurasa sedang membicarakanku di kanal radio terkenal. Menulis pendapat mereka yang akan dicetak ke koran-koran arus utama. Sebenarnya aku tidak peduli, tidak pernah peduli. Biarkan mereka membicarakan sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu artinya.
Aku sudah paham tentang pola itu—bahwa rata-rata dari mereka sering menggunakan kata-kata sederhana seperti pembunuhan, kejahatan, korban, atau monster untuk mempermudah pemikiran mereka, karena menggunakan kata-kata sederhana tidak perlu pemikiran kritis. Ini bukan pembelaan semata, manusia memang lebih suka jawaban daripada pemahaman.
Selasa, 2 Mei.
Studioku sebenarnya tidak terlalu jauh dari kediaman. Untuk sampai ke tujuan hanya butuh waktu sekitar tiga puluh menit bila jalan kaki. Aku mencintai sinar matahari di pagi hari, dan itulah alasan mengapa aku memilih untuk terus berjalan kaki. Ada beberapa alasan juga yang akan aku paparkan mengenai pemilihan lokasi.
Pertama-tama, tempatnya cocok bagiku untuk menghabiskan waktu sembari menikmati indahnya pemandangan senja. Jendela studio menghadap ke arah barat, menunjukkan keindahan abadi dari cahaya matahari yang terasa lebih matang dan konsisten.
Selanjutnya, setiap dinding dalamnya mendukung untuk menyusun cetakan-cetakan foto dengan posisi sempurna. Biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menyusunnya, dan puji syukur ruangan itu lebih besar dari yang kukira. Aku mungkin akan gila jika studio yang dipilih ternyata sempit; karena bagiku studio bukanlah ruangan biasa, bagi fotografer itu adalah bumbu pemanis.
Banyak fotografer senang mengunjungi studioku. Mereka selalu berkomentar bahwa ruangan itu terasa tenang. Tepat sasaran, pikirku.
Ada juga satu orang yang masih kuingat hingga saat ini; seorang perempuan berumur tiga puluhan yang mengaku bekerja sebagai fotografer jurnalistik. Ia berkomentar bahwa studioku penuh dengan kebohongan.
Terasa pedas saat pertama kali didengar, tapi setelah ditelaah lebih dalam, komentar itu terlihat cerdas dan orisinal. Sayang sekali, dia tidak pernah berkunjung lagi ke studio setelah melontarkan komentarnya.
Kala itu aku masih mengerjakan sebuah seri berjudul Aerdtsche yang akan disusun di dinding bagian timur agar menyatu dengan cahaya senja. Aerdtsche adalah salah satu mahakaryaku karena aku menciptakannya penuh dengan perhitungan dan semangat yang tinggi.
Jika kau bertanya alasan di balik penciptaannya—itu karena semua manusia adalah Aerdtsche. Wajah yang ditunjukkan manusia kepada dunia hanya topeng semata. Jika topeng itu dibuka akan terlihat lapisan lain.
Menurut Darwin, lapisan itu adalah lapisan murni. Lapisan yang menunjukkan emosi purba hasil evolusi. Aku setuju dengan pendapatnya, memang benar, dan itulah seni yang kudambakan. Haruskah aku berterima kasih kepada Darwin saat ini karena penemuan tersebut?
Sampai sudah kita ke inti dari permasalahan di awal. Segmen cerita yang orang-orang di luar sana tidak akan menyukainya. Tapi biarlah, aku pun tidak peduli. Memang mereka tidak akan pernah bisa paham makna dari seni yang sesungguhnya.
Sosok pertama yang berkontribusi besar dalam seri Aerdtsche adalah seorang perempuan Sunda yang aku temui saat pameran fotografi di Cikini. Malam itu kami berbincang tentang karya-karya Ansel Adams selama satu jam lebih. Lalu aku menawarkannya untuk menjadi model di seri terbaru. Ia setuju dan berjanji akan datang sekiranya dua hari setelah pertemuan kami.
Sesi pertama semuanya dilakukan di studio pribadi, aku mengambil sekitar 175 foto dengan pose yang berbeda. Hasilnya memang baik. Tapi tidak sempurna dan luar biasa.
Sesi kedua kami dilakukan di lokasi berbeda. Lokasi itu berada di gedung tua tidak jauh dari studio. Gedung itu adalah tempat idealku karena cahaya masuk dengan maksimal. Ada bau lembab dan udara yang lebih sejuk dibandingkan di studio.
Kesempatan itu tentu tidak aku sia-siakan begitu saja. Aku sudah menyiapkan kamera, sebilah pisau palet, dan ember berisi air bersih. Kami berdua masuk bersamaan. Aku mengunci setiap pintu dan jendela. Ia sempat bertanya, “Tuan, mengapa kau kunci jendela dan pintu itu?” Aku hanya menjawab bahwa ini mungkin hari terakhir kami bertemu.
Aku ambil pisau dari kantong celanaku, wajahnya langsung memberikanku senyuman hangat. Senyuman yang masih percaya bahwa dunia bisa dinegosiasi. Tapi akhirnya ia sadar juga jika semua itu tidak berarti di mataku.
Ia berusaha menjauh dari pandanganku, berlari-lari mencari arah keluar dan tersandung karena ulahnya sendiri. Aku bersyukur karena tak perlu mengeluarkan banyak usaha untuk mengejarnya. Ia merangkak sejauh beberapa meter, napasnya terengah-engah dan keringat mulai membasahi wajahnya.
Aku menarik paksa wanita itu untuk berdiri, memukul kepalanya berulang kali hingga suara renyah dapat terdengar seperti ranting yang dipatahkan. Jeritannya pun hampir mengisi seluruh sudut bangunan—mungkin jeritan itu keluar pertama kali sepanjang hidupnya.
Saat ia tergeletak lemas di lantai, aku menusuk pisau palet ke dalam tulang dadanya, menembus kulit dan daging. Darah hangat menyembur ke tanganku, tubuhnya menggeliat bagaikan ulat. Aku masukkan bilah itu sekali. Dua kali. Tiga kali. Dan setiap bilah yang masuk ke dalam tubuhnya menunjukkan detak jantung yang masih bekerja. Mulutnya sudah dipenuhi darah bahkan gelembung-gelembung basah setiap kali ia mencoba bernapas.
Aku duduk tepat di sampingnya. Menyalakan rokok. Menikmati udara segar yang lolos dari setiap lubang gedung yang ditutupi. Memperhatikan mata yang masih terbuka dan pupil yang menonjol tajam. Aku mengambil kamera dari tasku—menekan rana ketika rona kehidupan mulai meninggalkan wajah perempuan itu. Momen itu adalah keindahan murni dan abadi.
Tidak lupa pula aku memotret beberapa kali dari jarak dekat. Dari bibir yang penuh darah, pakaian putih yang berubah warna, dan lantai lembab yang kubuat sebagai latar belakangnya.
Saat kurasa sudah selesai, aku pergi untuk membersihkan celanaku karena darah sudah merembes ke dalam. Menggunakan air dan kain yang sudah aku siapkan sebelumnya. Tidak lupa pula aku mengganti pakaian lalu pergi meninggalkan gedung itu.
Bulan purnama menemaniku selama perjalanan kembali menuju studio. Malam itu aku berencana untuk menyusun kembali cetakan-cetakan foto yang sudah dihasilkan.
Rabu, 3 Mei.
Tiga bulan lalu aku ditangkap oleh pihak kepolisian yang membawaku ke balik jeruji besi dingin ini. Aku ditangkap bukan seperti kriminal bodoh lainnya, aku memang sudah tahu itu akan terjadi.
Mereka menemukanku di studio. Melihatku sedang duduk menikmati kopi hangat di sore hari, sembari mempertimbangkan cetakan mana yang akan aku coba susun di dinding bagian timur studio itu.
Memalukan. Memalukan untuk diingat bahwa betapa bodohnya aku saat itu—meminta kepada para anjing pemerintah Republik baru ini untuk setidaknya memotret ruang kerjaku sebelum menyentuhku.
Tentu saja mereka menolak. Tahu apa mereka tentang keindahan seni? Mereka menghabiskan hidup untuk meraih kemerdekaan dari penjajah sembari menghina mereka yang berkulit putih dan bermata biru sepertiku. Tidak punya waktu untuk hanya belajar fundamental seni.
Di balik jeruji besi ini, waktu terasa berhenti. Aku mengingat semua proses pemotretan dengan detail sembari memikirkan apakah semuanya masih lolos atau sudah dibakar oleh polisi.
Aku merenung sejenak.
Sia-sia jika mereka menghapus orang-orang yang berkontribusi kepada karyaku. Mulai dari perempuan Sunda itu, sekretariat pemerintah, keturunan ningrat dari Yogyakarta, dan yang lainnya. Aku tidak ingat tapi mereka semua memiliki lapisan murni. O’ My Aerdtsche!
Seri itu sebenarnya belum selesai, aku merasa masih ada yang kurang. Mulai terlintas di benakku untuk mengorbankan diriku sebagai bagian akhir dari seri itu.
Benar. Aku sudah bosan mengabadikan para perempuan sebagai model kanvas. Aku juga ingin membuka topengku. Aku juga ingin orang lain melihat lapisan murni yang kubicarakan selama aku menulis ini. Mungkin dengan itu mereka bisa paham.
Menjadi Aerdtsche terakhir. Dengan itu semua akan sempurna. Dengan itu aku bisa merasakan apa yang dirasakan mereka; nafas terengah-engah, mata yang tajam, dan warna yang merona!
Buku catatan yang diberikan mahasiswa Universitas Indonesia ini sudah hampir habis. Jadi aku akan menyimpan beberapa lembaran untuk bagian-bagian penting nanti.
“Tunggu sebentar,” kataku pada dinding sel. “Semua ini akan tercapai. Keindahan abadi. Jalan menuju Nirvana.”
Cahaya dari koridor kembali berkedip lagi. Aku tidak akan fokus menulis. Kita bertemu lagi di esok hari saat cahaya pagi datang melewati ventilasi. Tapi cahaya lain juga akan datang, cahaya abadi yang akan terus bersinar untuk selamanya.
Kamis, 4 Mei.
Apa aku sudah menceritakan bagaimana buku catatan ini jatuh di tanganku? Jika memang sudah, biarkan aku sekali lagi menceritakannya dengan lebih rinci di bagian-bagian akhir penutup ini.
Aku mendapatkannya dari mahasiswi Universitas Indonesia itu—dia berkunjung untuk mencari informasi untuk penelitiannya. Ingin mencari tahu bagaimana cara berpikir seniman gila katanya. Aku hanya tertawa. Aku sadar bahwa ia sebenarnya hanya ingin melihat “monster” secara tatap muka.
Tapi aku berterima kasih untuknya saat ini. Tanpanya aku tidak akan bisa menulis ini sebagai penutup seri Aerdtsche.
Penjara ini berada di Cipinang, tempat di mana mereka mengumpulkan bajingan-bajingan di satu bangunan. Memang besar tampak dari luar. Lantainya kotor. Udaranya dingin, dingin yang menusuk ke semua pori-pori kulit. Bau ruangannya mengingatkanku dengan kampung ibuku di Cibiru.
Mereka masih memberikanku makanan yang layak. Pagi sampai malam. Aku harus menyantap semua yang mereka berikan jika harus bertahan hidup sampai nanti. Berkat mereka, aku bisa mengambil sendok yang sudah aku pahat ujungnya dengan tajam. Bukan lagi pisau palet, bukan lagi kampak, hanya pahatan murni.
Ah, aku jadi ingat. Ayahku selalu berkata tidak ada alasan untuk kita berhenti menciptakan seni meskipun kita di bawah diskriminasi dan penghinaan.
Sungguh ironis, ya.
Harusnya aku sekarang sedang duduk di studio. Merokok, minum kopi hitam, dan berdialog dengan bulan purnama. Tapi sekarang aku hanya bersandar di dinding dingin sel sembari mendengarkan hiruk-pikuk Republik baru ini. Aku tidak ingin menambah bumbu politik di tulisanku, tapi aku akan tulis setidaknya beberapa kritik. Aku harap kau bisa membacanya hingga akhir.
Aku bukan orang Belanda. Aku juga bukan orang Indonesia. Semasa kecilku, aku hanya ditolak oleh dua sisi dunia. Satu melihatku dengan pandangan yang jijik dan berdosa, dan yang lain melihatku sebagai sampah hasil kolonialisme. Jika kau bertanya apakah dorongan pribadiku dalam menciptakan Aerdtsche juga dibalut dengan dendam? Tidak. Aku memang suka seni. Aku mencintai setengah bagian dari diriku ini.
Aku mencintai Indonesia karena telah menjembatani seluruh ide untuk hasil karyaku. Aku tidak akan bisa mendapatkan cahaya yang menonjol ini bila di Den Haag.
Apakah kau ingat bahwa kemarin aku berencana menjadikan diriku sebagai model terakhir dari Aerdtsche?
Besok malam aku akan menggunakan pisau pahatku ini. Menusuk ke dalam dada. Tusuk. Tusuk. Tusuk lagi. Aku sebenarnya ingin melihat akhir dari seri ini. Tapi seniman sejati harus menjadi seninya itu sendiri. Aku akan menuliskan pesan kecil di belakang halaman buku ini:
Sebelum kau mengangkat tubuhku, potret dari jarak dekat dan jauh. Dari bagian wajah, luka, dan juga mata. Jika bibirku sudah membiru, hidupkan sebatang rokok dan taruh tepat di bibirku. Ini permintaan terakhirku.
Aku lupa. Halamannya sudah penuh padahal aku menulis dengan hati-hati. Jadi tolong tuliskan di judul koran yang akan terbit nanti, “Karya terakhir Aerdtsche dari fotografer Elias Saputra.”
Selamat malam, wahai pembaca. Aku harap saat kau sampai di bagian akhir buku ini, kau bisa memahami apa itu keindahan yang terus aku lontarkan.
Bionarasi
Muhammad Aldi Fathur Rahman lahir di Bandung pada 11 Februari 2007. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tumbuh bersama dirinya. Kini ia sedang menempuh studi di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Teknokrat Indonesia—sambil terus mendalami kecintaannya pada karya sastra dunia.