Harapan yang Berhembus

Oleh: Muhammad Davin Ramadhan

Mengapa udara terasa begitu menyakitkan?” tanya Lila Bree dengan suara lirih, memeluk erat boneka beruang usang ke dadanya. Gadis kecil itu berbaring di tempat tidurnya yang mungil dengan masker oksigen terpasang di wajah. Sudah tujuh tahun Lila Bree berteman akrab dengan benda itu. Meski ia tidak memakainya sepanjang waktu dan hanya pada situasi tertentu. Masker oksigen itu tampak begitu ganjil karena ukuran besarnya dan bentuknya yang seperti tempurung. 

Lila Bree menatap ke luar jendela, ke arah bayang-bayang matahari terbenam. Namun bayangan yang ada di luar bukan hanya dari matahari terbenam; tapi juga asap kumuh yang bau, melayang-layang di antara rumah warga seperti gerombolan hantu. Asap itu membuat dadanya terasa semakin sesak, sekaligus menarik ingatannya pada hari ketika ia masih mencoba bernapas seperti anak-anak lain. 

Ingatan Lila Bree terbang ke beberapa hari lalu, ketika ia sedang bermain lompat tali dan kejar-kejaran bersama teman-temannya di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip, tepat di depan rumahnya. Tawa riang teman-temannya terdengar di udara, nyaring seperti bunyi lonceng kecil di sepeda tuanya. Tetapi setiap kali Lila tertawa terbahak-bahak, jantungnya berdebar kencang, dan itu membuatnya kesulitan bernapas karena tekanan yang menumpuk di dadanya. 

Ayo, Lila! Kamu kena!” teriak teman-temannya, sementara dia mengejar mereka, rambut ikal cokelat panjangnya berkibar tertiup angin. Kemudian, Lila tiba-tiba jatuh ke trotoar sambil terengah-engah. Yang terakhir kali dilihat Lila adalah raut cemas di wajah teman-temannya, yang tidak lama kemudian terbenam digantikan kegelapan. 

***

Ketika ia kembali sadar, napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Di tengah rasa sesak itu, sebuah kenangan lama perlahan muncul di benaknya. Lila pernah mendengar cerita dari neneknya, bahwa dulu, ketika neneknya kecil, ia tidak pernah menghirup udara beracun. Pada masa itu, bunga-bunga terlihat bermekaran di mana-mana, pepohonan menari tertiup angin tanpa rasa takut terhadap bayang-bayang polusi. 

Kenangan itu terasa begitu indah, namun juga jauh dari kenyataan yang dihadapinya sekarang. Realitas membawanya kembali ke ruang putih yang dingin. Lila kini duduk di dalam bangsal rumah sakit yang steril, mendengarkan bunyi mesin yang berirama dan gumaman dokter.

Kulitnya yang pucat terlihat selaras dengan gaun khas pasien rumah sakit yang dikenakannya. Bukan hanya penyakit yang menggentayangi dirinya, tetapi juga dunia luar. Ia sadar bahwa udara yang dulu segar kini telah berubah menjadi sesuatu yang menyakitkan. 

Kesadaran itu tidak datang tiba-tiba, melainkan tumbuh seiring keadaan di sekitarnya yang semakin memburuk. Saat lingkungan itu semakin rusak, daerah tersebut menjadi bagian kota yang terlupakan oleh janji para penguasa yang kian mengering. Taman-taman yang tidak terawat menjadi tempat pembuangan sampah, dan banyak keluarga yang berjuang setiap hari bukan hanya dengan pedihnya kemiskinan, tetapi juga menghadapi ancaman penyakit yang selalu menghantui mereka. Kebanyakan warga yang ada di lingkungan sekitar Lila mengenakan masker setiap beraktifitas. Bukan hanya untuk melindungi diri dari polusi, tetapi juga seolah menyembunyikan harapan yang masih tersisa di baliknya. 

Ketika keadaan semakin tak tertahankan, barulah suara perlawanan mulai bermunculan. Hingga pada suatu hari, seruan untuk bertindak datang dari sekelompok aktivis lingkungan yang menamai dirinya “Segar ‘Tuk Semua”. Mereka menggelar unjuk rasa untuk memperjuangkan mutu udara yang lebih baik, mendesak suatu gebrakan yang kelak mewujudkannya, dan memulihkan ruang-ruang yang hampir sekarat.

Bu! Mereka butuh bantuan!” seru Lila, sambil menunjuk selebaran-selebaran cerah yang ditempel di deretan tiang lampu yang ada di sekitarnya. Setiap selebaran punya warna tersendiri dan pesan penyemangat yang tak jua disebutkan satu per satu.

Ibunya menghela napas panjang dan menyuruhnya diam. “Mereka sudah mencoba sebelumnya, sayang. Hanya saja, ini rumit.

Tapi aku tidak bisa bernafas!” seru Lila dengan mata panik. “Mereka harus mendengarkanku!

Percakapan itu tidak benar-benar berakhir malam itu. Kata-kata ibunya terus terngiang di kepala Lila, beradu dengan rasa sesak yang tak kunjung reda. Rasa takut masih ada, tetapi perlahan dikalahkan oleh keinginannya untuk bernapas dengan bebas. Tekad itu tumbuh diam-diam. 

Meskipun orang-orang terutama ibunya menyuruh untuk tidak melakukannya, tekad yang kuat terpancar di hati Lila. Dia memutuskan untuk menyelinap keluar keesokan harinya, siap bergabung dengan orang dewasa yang perasaannya penuh harapan dan amarah.

Itu adalah unjuk rasa yang penuh lautan warna dan suara yang bercampur aduk. Lila berdiri tegak, membawa papan bertuliskan “Paru-paru kami pantas ‘tuk hirupan surgawi di sini!” sambil bergetar dengan nyanyian dan dentuman musik saat orang-orang berkumpul untuk perubahan.

Namun suasana itu tidak bertahan lama. Ketika polisi datang, ketegangan menyebar dengan cepat, membelah kerumunan menjadi garis tipis antara harapan dan kemarahan. Saat Lila berteriak dan melambaikan plakatnya, dorongan dari belakang membuatnya kehilangan keseimbangan. Ia jatuh. Dadanya kembali terasa sesak, lebih tajam dari sebelumnya, seolah nafasnya tersangkut di tenggorokan. 

Tiba-tiba, suara peluit petugas polisi terdengar.

Mundur! Berhenti!” 

Lila tersentak dadanya sesak, tangannya meraba-raba alat bantu pernapasannya. Suara itu semakin keras saat rasa takut menjalari tubuhnya. Suara itu menjadi kacau; jantungnya berdebar kencang karena takut.

Seseorang yang tidak dikenal tiba-tiba mengulurkan tangan dan mengangkat Lila, merangkulnya, tetapi itu tidak banyak menolongnya dari kekacauan.

Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah suara tiba-tiba menembus segalanya. 

Hentikan!

Teriakan seorang wanita menggema, memotong keributan yang semakin tak terkendali. Dia adalah Clara, kepala Koalisi Segar ‘Tuk Semua—nama yang sebelumnya hanya Lila lihat di selebaran. 

Ada seorang gadis kecil di sini! Dia menderita asma! Tolong beri ruang!” serunya lantang. 

Clara berhasil melewati kerumunan, lalu berlutut di hadapan Lila. Dengan matanya yang menyala namun lembut. 

Bisakah kau memberitahu semua orang bagaimana perasaanmu?” tanya Clara. “Beri tahu mereka mengapa kita melakukan ini.

Bibirnya gemetar, dan air mata putus asa menggenang di matanya yang besar, Lila meraih inhalernya dan entah bagaimana dia menemukan kekuatan untuk berbicara. “Aku hanya ingin bermain seperti anak-anak lain. Aku ingin tertawa dan mengendarai sepedaku tanpa…tanpa merasakan ini,” suaranya sedikit bergetar, “Tanpa membutuhkan bantuan untuk bernapas.

Air mata mulai mengalir saat kerumunan mendekat, merasakan permohonan tulus seorang anak yang pantas mendapatkan masa depan yang seharusnya tidak terhambat.

Pada saat itu, suasana kacau menjadi hening. Semua orang bertindak seolah-olah menahan napas bersamaan dengan Lila, baik orang dewasa maupun anak-anak. Kata-kata itu telah menyentuh sesuatu yang dalam di tempat yang tak seorang pun ingat keberadaannya, percikan api yang belum tersentuh seolah menyala kembali untuk suatu kebaikan. “Aku ingin udara bersih!” lanjut Lila, tubuh kecilnya gemetar karena tekadnya. “Kita semua membutuhkannya!

***

Minggu berganti bulan, dan suara Lila berubah menjadi suara yang polos, seolah bukan suara rakyat yang berjuang melawan ketidakpastian dari atas kursi.

Saluran berita melaporkan pendiriannya yang teguh, dan tak lama kemudian,

para penguasa menyerah di bawah tuntutan mereka yang datang dari akar rumput. 

Namun, harapan itu rapuh karena janji para penguasa yang lagi-lagi terdengar seperti awan; mungkin indah, tetapi tetap saja hujan. Sementara para warga menggelar kegiatan bersih-bersih lingkungan dan segala hal untuk mewujudkan itu ala kadarnya, Lila masih harus minum obatnya. Keluarganya harus menanggung banyak penyakit, dan udara pekat yang kotor tetap ada bagaikan hantu yang cepat hilang dan berpindah ke tempat lain.

Jadi, setelah unjuk rasa seharian penuh dan musyawarah yang menegangkan, Lila menonton ibunya berbicara di rapat dewan kota yang disiarkan langsung secara daring. “Kita butuh kehidupan yang lebih baik untuk anak-anak kita,” kata-kata penuh semangat ibunya benar-benar menyentuh hati Lila. Bahkan dengan segala suka duka, dia merasakan kebanggaan yang meluap di dalam dirinya.

Bulan-bulan berlalu dan perubahannya hampir tidak terlihat. Tanaman baru ditanam dan grafiti yang ada di mana-mana bergemuruh dengan pesan-pesan tentang kepedulian dari saraf batin; namun tetap meninggalkan rasa ketidakpastian karena Lila masih berjuang dengan asmanya meskipun beberapa laporan menunjukkan bahwa masalah yang berlalu di kota tempat tinggalnya sudah diatasi sebaik mungkin. 

Suatu malam, saat matahari terbenam, Lila berjalan-jalan santai bersama ibunya di sebuah taman setempat. Beberapa anak sedang bermain, di mana mereka sudah tidak malu lagi, tawa mereka menggema, dan kita benar-benar bisa mendengar kegembiraan yang memenuhi benderang di tengah gelapnya angkasa. Lila menarik napas dalam-dalam, merasakan angin sejuk yang berhembus.

Ibunya menoleh padanya, setetes air mata jatuh dari setiap matanya. “Kau merasakannya, sayang?” “Ya, Bu. Baunya benar-benar berbeda.” Lila berjalan menyusuri jalan setapak dan bertemu dengan anak-anak yang matanya berbinar sambil bermain lompat tali. 

Dia bisa merasakan aura kepolosan yang memanggilnya. Tentu, mereka mungkin baru memulai perjalanan menuju lingkungan yang lebih bersih, tetapi setiap tantangan yang mereka hadapi bersama terasa penuh bebatuan dan entah apa yang akan muncul di suatu masa.


Bionarasi Penulis:

Muhammad Davin Ramadhan, adalah salah satu mahasiswa Sastra Inggris dari Universitas Teknokrat Indonesia yang tampak antusias dan bersemangat untuk menulis puisi tentang isu-isu kehidupan nyata dengan konteks kritisnya. Ia lahir di kota Bandar Lampung, tepatnya pada 5 November 2004. Ia memiliki beberapa hobi, seperti membaca buku, menulis ide, dan mengedit video. Selain itu, ia juga memiliki beberapa pengalaman menulis, di mana ia pernah mengikuti lokakarya cerpen yang diselenggarakan oleh CoE Literation Teknokrat serta KoBuku Yogyakarta. Tidak hanya itu, ia juga berhasil menciptakan puisi pertamanya dengan judul “Pagi Kelam di Sarinah” yang telah dikumpulkan dalam sebuah antologi melalui Wattpad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *