Jejak Hari

Oleh: Wahid Kurniawan

“RIP Kesusastraan Galihmunda.” Mural itu tampil mentereng di kedua sisi jembatan Andalika, jembatan terbesar yang membelah kota Galihmunda. Melihat itu, lambung Bayu Sena terasa terpelintir. Gejolak mual sekejap menyergapnya. Bayu Sena kesulitan menentukan muasal gejolak itu dari asam lambung atau rasa heran atas kegigihan siapa pun entah yang merasa perlu menuliskan mural itu hingga tampil sedemikian penting sebab bersanding bersama coretan protes “Kota yang Memupuk Bom Waktu dari Tumpukan Sampah” dan “Apa yang Lebih Menjanjikan dari Kota yang dibangun di Atas Janji Manis?”. Namun, satu hal yang pasti, ia langsung muntah, kendati yang bisa dikeluarkan perutnya hanyalah hawa gas yang menusuk dan menggigit tenggorokan.

Tubuh Bayu Sena limbung sedikit. Kakinya berusaha menjejak lebih ajek. Rencananya bakal berantakan kalau ia sampai tumbang duluan. Ia pun tak mau memancing perhatian orang-orang. Biarlah mereka mengira kalau dirinya tengah menyimak semburat orange-jingga milik senja yang kata orang begitu menawan apabila dilihat dari jembatan ini. Tapi tentu bukan itu tujuannya. Demi dedemit dan malaikat yang suka nongkrong di bawah jembatan, ia tidak sedang ingin mengagumi senja yang rutin hadir di linimasa warga Galihmunda itu.

Ia memejamkan mata. Sekonyong angin yang dibawa kendaraan yang melintas menampar wajahnya. Ah, inikah saat yang tepat? Ia melempar pandangan ke sungai Blungas yang berair tenang. Di belakangnya, kota tengah merintih, sementara warganya menghela napas lega. Wajah kota dipenuhi semarak sekaligus muka-muka lelah. Tempo hari ia menjadi salah satu di antara mereka. Sebentar lagi ia bakal menjemput wajah baru, atau lembaran baru? Ah, membayangkannya membuat dada Bayu Sena berdebar. Diambilnya setumpuk kertasnya dari ranselnya. Segurat senyum meliuk di sudut bibirnya begitu melihat tulisan di halaman pertama:

Jejak Hari
(sebuah novel)
untuk Ana Jatmika

***

Kamar indekos itu kecil saja. Isinya sesak pula. Tumpukan buku berserak, bercampur dengan satu kotak sampah, asbak penuh puntung rokok, dan bercak hitam di lantai bekas bergelas-gelas kopi yang habis diminum. Bangkai seekor coro tampak terjepit di salah satu tumpukan buku. Tidak ada yang tergerak menyingkirkannya.

“Aku capek,” kata seorang perempuan. Ia menggeser setumpuk buku George Orwell beragam edisi.

“Sebentar, sepuluh menit lagi,” jawab laki-laki yang memunggungi si perempuan. Wajahnya tenggelam di depan layar laptop, sementara jarinya sibuk menari-nari di atas tuts keyboard.

Si perempuan mengeluarkan suara Puhh pelan.

“Ini lomba cerpen bergengsi, Sayang. Aku tak boleh melewatkannya,” kata laki-laki itu merasa perlu menjejalkan kalimat serupa berulang kali ke batok kepala si perempuan seolah ia perempuan paling dungu sedunia.

Biasanya, si perempuan tak pernah mempermasalahkan urusan laki-laki itu dengan kecintaannya pada dunia tulis-menulis. Tapi, ia sebal terus-terusan dinomor-duakan. Benaknya makin rusuh mengingat malam ini ia sudah dijanjikan pergi keluar bersama. Ia pun tak kuasa menyumpal rasa sebal itu sebab mereka sudah menundanya beberapa kali. Sempat dirinya memprotes soal perkara itu, bilang kalau kenapa tidak menulis dari jauh-jauh hari; bilang kan sudah tahu tenggatnya malam ini, kenapa baru ditulis; bahkan, ia sempat bilang kalau si lelaki tidak pandai dalam urusan manajemen waktu. Merepotkan orang lain saja.

Sementara si lelaki, sebagaimana banyak jenis lelaki yang tak lulus dalam ujian membaca gelagat dan suasana batin perempuan—seperti biasa, hanya merespons dengan bilang kalau hal itu sudah menjadi kebiasaannya. Si lelaki mengatakan kalimat, “Ia hanya bisa menulis saat menjelang tenggat dan ia sudah melakukannya setidaknya dalam tiga tahun ini.” dengan kebanggaan seorang presiden yang katanya sudah berhasil membabat para teroris, sehingga terdengar begitu memuakkan lantaran diucapkan seolah itu traktat yang sukar dibantah. Dan bila sudah begitu, si perempuan malas membahasnya lagi dan memilih untuk diam. 

“Kita putus saja,” kata si perempuan tiba-tiba.

Si lelaki merasa paragraf terakhirnya sedang menjalar dari otak ke otot-otot jarinya, tapi ucapan yang baru didengarnya sukses menyumpat jalannya proses itu. Ia membalik badannya, lalu dengan wajah keledai paling murni, menaikkan kedua alisnya.

“Kamu bilang apa barusan?”

“Aku capek sama kamu. Ini hubungan pacaran tercapek yang pernah kujalani. Kau sadar nggak sih?”

“Capek?” Tentu saja, sekiranya ada kompetisi wajah tertolol di dunia, maka wajahnya tak syak lagi bakal didapuk sebagai juara utama.

“Aku capek karena sepertinya aku yang harus mengerti kamu, aku capek dengan emosimu yang suka nggak stabil, aku capek sama kehidupanmu. Sudah, aku pulang dulu.”

Jam dinding yang penunjuk detiknya patah di dinding kamar seolah berhenti berputar. Tiba-tiba kipas angin yang sudah lama lelah memutar dirinya memutuskan buat pensiun dini. Sekiranya sebelumnya terdengar kegaduhan dari ruangan sebelah, maka tampaknya mereka mendadak serangan jantung berjamaah hingga menyisakan kesunyian yang sarat. Dan seperti adegan di film-film romansa yang idenya itu-itu saja, tampak si lelaki membutuhkan beberapa detik untuk menyadari kalau sosok perempuan di hadapannya telah berlalu dan yang tertinggal adalah aroma Musk dan Amber yang begitu diakrabinya. Tepat saat kesadarannya kembali berpijak, ia berlari ke arah pintu setelah sempat terjengkal sebatang sapu yang melintang, lalu mendapati motor si perempuan sudah tidak ada di halaman area indekosnya. Telak saja ia merasa baru menciptakan kiamat dalam hidupnya.

***

Bayu Sena melewatkan kelas Sastra Poskolonial hari itu. Padahal ia sudah bertekad akan membabat klaim Putra Ajisaka dan antek-anteknya yang bilang kalau novel Multatuli adalah adikarya yang berpihak pada pribumi. Sial bagi Bayu Sena, ia baru terbangun pukul sebelas siang dengan tubuh berderak melampui usia sesungguhnya. Ia teringat kalau semalaman kantuk seolah absen menunaikan tugasnya, hingga waktu yang berceceran ia habiskan dengan empat gelas kopi dan dua bungkus Samsu yang dinikmatinya dengan perasaan merana pungguk merindukan rembulan. Dan tubuhnya baru menyerah pukul enam pagi tadi.

Ia tahu pasti, akibat tidur yang tak direncanakan seperti itu bakal memberikan efek beruntun yang membuat hari dipenuhi umpatan kebun binatang: tubuhnya seperti habis dihajar habis-habisan, ditambah kepalanya pengar luar biasa. Itulah dirasakannya saat ini. Setelah berjuang hebat mengangkat diri dari ranjang, berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dengan sabun yang perlu disobek ujung supaya isinya keluar, ia memandang wajahnya di kaca dan mendapati ucapan mantan pacarnya semalam merangsek ke kepalanya secara bertubi-tubi. Dirinya membuat perempuan itu capek? Tak perlu dipertanyakan, ia tak mengerti sekaligus tak terima dengan ucapan itu. Ditambah lagi, ia masih belum bisa menerima kenyataan kalau ia baru saja diputuskan pacarnya. Bagaimana bisa? Ada apa dengan diriku? Mengapa ia bisa setega itu? Bayu Sena berniat menelepon perempuan itu siang ini juga. Atau menemuinya secara langsung? Ia mengingat-ngingat jadwal si perempuan. Aha, dia punya kelas jam tiga sore. Ia berniat menemuinya saja sehabis kelas.

Setelah mematut diri di depan cermin, menyisir rambutnya lusinan kali, ia memancak dirinya sudah siap dengan apa pun yang bakal terjadi sepanjang pertemuan nanti. Untuk memberi kesan baik, tak lupa ia membeli jus buah kesukaan si perempuan saat melewati jalan sebelum tiba di kampus mereka. Begitu tiba, ia melihat jam di tangannya, masih ada waktu setengah jam lagi. Ia memutuskan duduk-duduk dulu di bangku di dekat kelas. Beberapa orang menyapanya, menanyakan kenapa ia melewatkan kelas tadi pagi—yang diresponsnya dengan bilang ia kesiangan, sementara Saka Tilam, temannya yang kemanyu, menanyakan apakah ia mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan Dewan Kesenian Galihmunda (DKG).

“Aku ikut, tapi tentu tak pede buat menang.” Ia tertawa keras.

Saka Tilam ikut tertawa dengan gayanya yang anggun dan aleman, kemudian mengatakan, “Kalau Kakak berhasil menyabet juara, nama Kakak bakal melambung tinggi, lho.” Itu benar belaka, ia juga bakal diundang ke Ibukota di acara internasional untuk mewakili kota Galihmunda.

Ia merespons tak kalah semangatnya dengan si teman dengan bilang kalau dirinya menjadi juara, Saka Tilam akan disebut sebagai sosok yang memberi dukungan tak putus-putus dalam pidato kemenangannya. Kendati, sejujurnya, Bayu Sena betulan tidak percaya diri dengan hasilnya nanti. Toh ia bukan siapa-siapa dan belum menjadi siapa-siapa yang membuat siapa pun ingin berguru padanya. Yang dilakukannya masih jauh untuk menjadikan namanya kondang. Kerap ia melihat dirinya sendiri cuma sebagai mahasiswa yang meluangkan waktu menulis ulasan puja-puji atas buku yang cocok untuk dilemparkan ke muka rentenir yang membuat kesal, esai sok mendetail yang tak layak digugat lantaran memang topiknya ke mana-mana, atau sesekali menulis cerpen eksperimental yang melulu bersoal cita-cita tumbuhan atau pembayangan kota futuristik dengan segala gejolaknya. Sementara konon kabarnya, dirinya baru memulai bakal novel pertamanya yang ia gadang-gadang cukup filosofis sebagaimana karya-karya Iwan Simatupang, sekaligus dipenuhi humor gelap sebagaimana cerpen-cerpen Budi Darma.

Tapi kini bukan saatnya membahas capaian-capaian itu, sebab begitu rombongan teman sekelas mantan pacarnya keluar dari kelas, Bayu Sena segera meninggalkan Saka Tilam. Di hadapan perempuan itu, ia memasang roman tulus sekaligus nelangsa.

“Aku minta maaf karena sudah mengecewakanmu.”

“Buat apa minta maaf?”

“Karena aku salah, dan aku ingin memperbaikinya. Makanya aku nggak mau pisah,” pungkasnya sambil menyodorkan segelas jus mangga.

Mantan pacarnya menerima minuman itu, membuka tutupnya, lalu dengan ketangkasan ibu-ibu kompleks mengusir hawa gersang pekarangannya dengan segayung air, menyiramkan isinya ke wajah Bayu Sena.

“Jadi harga maafku cuma senilai satu gelas jus mangga encer?”

Semua orang terkejut. Beberapa terpekik kaget, tapi banyak juga yang tak kuasa menahan tawa. Sementara Bayu Sena meringis saja. Apalagi saat mantan pacarnya beserta rombongannya berlalu. Meninggalkan diri Bayu Sena yang hari itu pulang memikul segunung rasa sesak.

***

Deg. Ia memeriksa buku jarinya. Alangkah rupawannya bulir-bulir darah yang bermekaran itu. Jangan lupakan pula gelenyar pedih yang seketika menjalari jemarinya. Seolah pemandangan ini kurang menampilkan adegan menyedihkan, lihatlah diri Bayu Sena yang menggelung tubuhnya di atas kasur lantai dalam indekosnya. Ah, alih-alih menenangkan, tindakan meninju tembok itu tentu saja justru kian menghantarkan sakit yang begitu menggigit. Sesaat dirasakannya tulang jemarinya patah. Sesaat ia tak kuasa menekuk jarinya dengan leluasa.

Mendapati seprainya terkena bercak merah, Bayu Sena buru-buru membersihkan bulir-bulir darah yang mulai menggenang. Ia menarik napas panjang. Menggigit bibir bagian bawah. Sejujurnya, ia membenci dirinya yang seperti itu. Ia merasa emosinya tak terkendali, marah terus-terusan, dan puncaknya, ia pasti melampiaskannya dengan meninju sesuatu. Seseorang pernah bilang kalau dirinya berdarah panas, mudah marah, dan sukar mengontrol emosinya. Agaknya benar demikian. Ia tak bisa menepis anggapan itu, sebab kadang ia bisa menyadarinya sendiri. Pernah suatu kali ia membentak mantan pacarnya secara tak sengaja hanya gara-gara perempuan itu terus mengoceh soal gaya hidupnya. Pernah pula ia menaikkan nada suaranya saat berdebat dengan seorang dosen tentang apakah novel picisan termasuk ke dalam sastra atau bukan hingga membuatnya berakhir mesti mengalungi selembar kertas bertuliskan “Saya Tidak Sopan” selama kelas-kelas hari itu berlangsung.

Di tengah deraan rasa sakit itu, ia mulai berpikir bahwa mungkin, keputusan mantan pacarnya memutuskannya adalah tindakan benar. Ia memang sosok yang kacau, tak terkendali, dan tak bisa diatur. Dan itu menyusahkan orang-orang di sekitarnya. Ia mulai mengamini kalau dirinya bisa membuat orang lain lelah. Bahwa keadaan sekarang ini terjadi lantaran dirinya sendiri. Penyebab pacarnya pergi adalah dirinya sendiri. Bahwa Bayu Sena adalah orang yang rusak.

Sekonyong, ingatan tentang masa lalu menyambangi pikirannya. Ia teringat soal hubungan dengan ayahnya, orangtua yang tersisa dalam hidupnya, dan kenyataan kalau hubungan mereka tak baik-baik saja. Perang dingin sudah mereka kobarkan dalam dua tahun ini setelah ia menolak mentah-mentah keputusan pria itu untuk menikah lagi. Apakah salah kalau ia merindukan pria itu? Konyol sekali. Tapi, mau ditaruh di mana wajahnya kalau ia coba menghubunginya lebih dulu? Apalagi, ia tak yakin bahwa pria itu masih menerima dirinya. Sialan, batin Bayu Sena, perasaan hampa itu kian menebal menderanya, seolah ada gelembung nihil udara yang mengungkungnya.

Ia masih bergelung dan menahan perih ketika sebuah notifikasi ponsel mengejutkannya. Secara spontan ia mengecek notifikasi itu. Dan isinya berhasil membuat ia melonjak girang.

***

Tiga hari berlalu sejak pengumuman kompetisi itu, Bayu Sena masih merasakan kegirangan yang tiada akhirnya. Tiga malam yang lalu, di saat kehampaan tengah menghimpitnya, ia tak sadar kalau itu sudah seminggu sejak ia mengirim naskah cerpennya. Dan ternyata namanya terpampang di urutan juara pertama. Sejak itu, ia segera teringat soal cerita temannya si Saka pria kemanyu, dan tentu, teramat menantikan hari ketika ia pergi ke Ibukota.

Seusai kelas sore, manakala dirinya merasa kian bungah lantaran bisa memberikan presentasi yang memukau seisi kelas tentang sastra Tionghoa, Bayu Sena memutuskan untuk nongkrong sebentar di kantin kampus. Ia membakar rokok kretek Samsu kebanggaannya, mengisapnya dengan kesubtilan filsuf-filsuf Prancis, dan tak lupa, membasahi tenggorokannya dengan segelas Extra Jos susu yang bulirnya tumpah-tumpah. Perasaan nelangsa ditinggal pacarnya tentu belum raib, perasaan itu masih sama kuat dan sama menyakitkannya. Tapi, demi membayangkan hari depan saat ia bakal jojong saja memesan makanan dan minuman sepuasnya sejenak menambal luka di benaknya, yang tampaknya tak bakal awet.

Ketika itulah, kehebohan menabrak tubuhnya seperti angin puyuh dalam wujud Saka Tilam yang mendaraskan suara melengking macam repetan tetangga berpadu kidung bebek.

“Kak, Kak, Kakak sudah mendengarnya?”

“Soal kemenanganku? Oh, tentu.”

“Bukan…” Saka Tilam mengeluarkan “Ihh” sepanjang lima belas detik lalu melanjutkan, “Ini soal Komunitas Sekar Jagat yang menggugat cerpenmu, Kak. Mereka bakal mengadili cerpenmu, astaga. Katanya mereka tak terima dengan keputusan juri, dan melayangkan penilaian bandingan. Coba cek IG-mu deh, Kak.”

Bayu Sena langsung membuka akun Instagram-nya. Di postingan kemenangannya, ia baru sadar kalau unggahan itu telah dipenuhi puluhan komentar bernada negatif. Barisan yang hadir bilang bahwa karyanya tak layak juara, tak pantas, dan cuma karya entengan kebelet tenar. Mereka pun memenuhi kolom komentar dengan tagar #rip_kesusastraan_galihmunda.

***

Seorang pria berwajah seteduh biksu menepuk pundaknya, bertanya ia sedang apa, Nak; mengapa melihat sungai begitu lekat seolah Tuhan tercermin di permukaannya. Dan ia menjawab sekenanya saja dengan senyuman. Selepas kepergian orang itu, pikiran soal hari-hari kemarin datang kembali. Ia ingat, selepas diberitahu soal pengadilan itu, ia mendapat undangan untuk menghadirinya. Ia memutuskan untuk tidak hadir, tapi sialnya ia ikut menyimak pembahasan melalui siaran langsung di Instagram. Keputusan menyimak itu patut disesalinya, sebab ia mesti mendengar ceramah saat empat orang mencacah karyanya seolah cerpennya adalah cacing yang menebarkan penyakit kedangkalan berpikir, hingga menunjukkan kalau karya itu lebih sampah dari brosur iklan yang patut dihinakan.

Sejak itu, Bayu Sena menutup diri. Ia membolos dari semua kelasnya. Kepercayaan dirinya hancur total. Hal itu pulalah yang membuatnya datang ke jembatan ini. Saat melihat air sungai untuk kesekian kalinya, ia makin berpikir kalau hidupnya sungguh sebuah kegagalan yang paripurna. Pacarnya telah pergi. Ayahnya tak bakal mencarinya. Namanya pun bakal langsung dilupakan orang lain.

Tidak ada yang perlu dirisaukan, begitu ia loncat, maka segalanya bakal selesai. Ia melayangkan pandang ke sekelilingnya. Orang-orang kian tenggelam dalam derap waktu yang warnanya makin memudar. Sejenak ia teringat pada adegan Virginia Woolf yang hendak melarungkan diri dalam keanggunan sungai Ouse. Perlukah ia meninggalkan secarik surat sebagaimana Virginia yang melukiskan derita beserta harapannya pada Leonard, suaminya tercinta? Oh, tapi ia lupa membawa pena dan buku catatan. Tampaknya cukup lembaran-lembaran bakal novelnya yang tengah digenggamnya itu ia tinggalkan di tempatnya berdiri saat ini.

Angin sore pun berkesiur seolah menggamit lengannya. Dan ia sudah mengangkat sebelah kakinya ketika ponselnya berdering. Nama Ana Jatmika muncul dilayar. Buru-buru diangkatnya telepon itu.

“Kau baik-baik saja? Di mana kau? Kosanmu kosong, Bodoh. Mestinya kautahu menghilang tak bakal menyelesaikan masalah. Jawab pertanyaanku atau kutelusuri tiap jengkal kota bobrok ini dan kusiram lagi muka meranamu itu dengan kopi basi.”

Tentu, Bayu Sena tak bisa langsung menjawabnya pertanyaan itu sebab yang keluar lebih dulu adalah tangis paling pecah yang kali terakhir ia keluarkan kala ibunya tiada.


Tentang Penulis:

Wahid Kurniawan, penikmat buku. Alumnus S1 Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Ilmu Pendidikan, Universitas Teknokrat Indonesia. Tulisannya tersiar di beragam media cetak dan online. Buku tunggal pertamanya berjudul Tiga Fragmen Air Mata dan Kisah-kisah Lainnya (Noken Studio Publisher, 2024).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *