PAWAI INISIAL

Oleh: Seno Kardiansyah


Di depan televisi kau duduk tertegun memandangi pasukan berbaris rapi berpasang-pasangan. Tiba-tiba terdengar sebuah komando: “MAJUUUU JALAN!!!“. Kemudian langkah-langkah mulai berderap. Satu per satu mereka pun menembus layar kaca, masuk dan keluar telinga.


Tiba-tiba matamu terbelalak melihat apa yang tengah terjadi di depan muka. Sekelompok pasukan itu masing-masing mengusung papan nama, menunjukkan inisial masing-masing mereka. Semuanya mengenakan seragam coklat dan jingga. Terlihat papan nama bertuliskan PS, FC, KR, RM, RE, dan banyak lagi lainnya. Sebagian lainnya memikul peti mati yang diselimuti bendera dua warna, merah-putih. Salah satu yang berbaris di depan mereka menunjukkan bingkai foto yang bertuliskan huruf J di dalamnya. Mereka semua berpawai merayapi udara, namun derap langkahnya terdengar begitu nyata.

Suara langkah mereka terus berderap semakin dekat, lantas masuk ke telingamu yang penuh serumen pekat. Gendang telingamu berdengung, rona wajahmu memerah, lantas dengan memekik kau bertanya: “Mau apa kalian semua?!

DOR!! DOR!! DOR!!! DOR!!! DOR!!!

Terdengar suara pistol ditembakkan ke udara. Tiba-tiba bau belerang lesap ke dalam rongga hidungmu. Lantas kau pun sontak mendengus untuk menolak bau mesiu itu masuk ke paru-paru.

Suara tembakan itu datang dari seseorang berinisial PS. Ia berbaris di bagian paling depan, tampak seperti pemimpin dalam barisan. Dengan erat ia menggenggam tongkat komando di tangan kiri dan pistol di tangan kanan. Kedua tangannya mengenakan sarung tangan hitam berbahan kulit yang mengkilap. Tanpa menengok ia mengacungkan pistol melewati sisi telinganya ke peti mati di barisan belakang.

“Kami TIDAK TAHU apa-apa, ia mati begitu saja. Kau HARUS percaya! Tapi asal kau tahu, saya tidak akan memaafkannya.”

Dari sanalah kau mulai menyadari, bahwa ia tidak dapat dipercaya. Pernyataannya tidak konsisten, sungguh mencurigakan. Tapi apa bedanya percaya atau tidak percaya, toh kau tak tahu ia siapa. Namun karena jeritannya begitu tegas di telinga, kau pun balik bertanya.

Dengan siapa kau bicara? Memangnya apa urusannya dengan saya?

Diiringi suara tembakan. DOR!! DOR!! DOR!! DOR!! DOR!! 

Ia menyahut. “Kau kan masih ada isi kepala, biarkan kami masuk ke sana.

Sekali lagi bau mesiu lesap ke dalam rongga hidungmu. Tanpa mendengus, kali ini kau justru terperangah mendengar kata-katanya. Meskipun tidak begitu mengerti apa maksudnya, kau mulai menyadari ia pasti berniat gila. Memangnya siapa yang mau masuk isi kepala?! Tempat celaka yang bikin orang-orang berpikir semena-mena; kadang suci, kadang hina; sesekali agama, sesekali negara, sesekali wanita. Itu kan tempat gila, yang mau masuk tempat gila ya orang gila. Gumammu sembari mengernyitkan dahi.

Saat masih coba memahami apa yang terjadi, tiba-tiba, sambil terisak, inisial FC yang berjalan dibelakang PS turut menuding peti mati di barisan belakang. Inisial PS pun kembali menembakkan pistol yang ia genggam.

DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!!

Perhatikan semuanya!

Dengan mata berkaca-kaca dan suara terbata-bata, inisial FC berkata, “Ia yang ada di dalam peti mati itu telah melecehkan saya, perempuan yang jauh lebih tua, sosok yang lebih tinggi derajat sosialnya. Majikan terhormat yang harusnya ia bela, malah diperlakukan tidak senonoh!

DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!!

Inisial PS kembali menembakkan pistolnya.

Aaaaakh!! kau memekik lebih kuat kali ini. Sebab mereka sudah sangat dekat dengan gendang telinga. Tak pernah terbayang sebelumnya ada seorang perempuan yang berani bicara di depan banyak orang, mengatakan bahwa ada yang telah melecehkannya. Namun, tidak seperti biasanya, sosok seperti apa yang mau melecehkan perempuan yang jauh lebih tua? Sambil mengusap daun telinga, isi kepalamu terus berupaya mencerna. “Ah, mungkin saja, bagaimana kalau perempuannya seperti aktris Sophia Latjuba”, ujarmu dalam hati.

Lantas bagaimana dengan status sosialnya? Apa mungkin seorang jongos berani berbuat tak senonoh terhadap majikannya?!” Sontak pikiranmu berpetualang, pertanyaan demi pertanyaan tiba-tiba muncul menggelisahkan. Sesaat kau membayangkan perilaku penjahat yang kerap muncul di film televisi, serta film-film buatan Jepang spesialis pertunjukkan adegan ranjang. Tetapi khusus film-film buatan Jepang, kau tentu mahfum bahwa tak selamanya majikan yang jadi korban, terkadang sang jongos justru yang jadi bahan pelampiasan.

DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!! DOR!!!

Suara tembakan kembali memecah keheningan.

SEETTTAAAANN!

Kau memaki kali ini, karena letusan itu seakan meledakkan kepalamu. Dengungnya begitu seru. Cairan kental berwarna kuning bercampur merah lantas meleleh dari lubang telinga hingga menetes ke pundak dan pahamu. Seketika jari jemari di kedua tanganmu mencengkeram rambut karena rasa sakit di kepala. Rasanya begitu perih. Kedua matamu terpejam. Sesaat kau hilang dalam kegelapan.


Tak berselang lama, perlahan kau membuka mata. Tiba-tiba terdengar suara-suara berbisik: “Tidak apa, ibu memang harus adukan ke bapak…biar ia tahu akibatnya!” Bisik inisial RM dari barisan ketiga. Di belakangnya terdengar, “mohon maaf pak, saya tidak tega…biar dia saja!” Bisik inisial KR sembari menaikan siku dan menunjuk ke belakang tanpa menoleh. Di belakangnya inisial RE terus tertunduk berjalan mengikuti barisan. Kedua tangannya tampak terkepal kaku. Sambil berbisik dengan lirih ia berkata, “maafkan saya, saya hanya pesuruh, saya tidak bisa menolak perintah atasan!”.

Di saat yang sama muncul suara-suara bisikan lainnya.
“Telah terjadi tembak-menembak…”
“Diduga terjadi pelecehan seksual…”
“Telah terjadi perselingkuhan…”
“Pelakunya adalah mafia…”
“Ada obstruction of justice…”
“Ternyata ada oknum terlibat…”
“Ada ibu yang anaknya jadi korban kejahatan…”
         “Ada politik di balik ini semua…”
hahahahahahahaha…hahahaha”…

DIAM SEMUAAAA!” Teriakmu kepada mereka.

Suasana lantas hening sesaat. Langkah mereka berhenti berderap.


DOR…DOR…DOR…DOR…DOR. Terdengar lagi suara tembakan, namun kali ini datang dari dalam peti mati. Seketika kunci peti hancur. Tak lama berselang pintunya terbuka. Tubuh yang semula terbaring kemudian bangkit terduduk. Dari wajah yang pucat pasi itu terlihat ada sebuah lubang besar menganga di tengahnya, sehingga ia nyaris tak berhidung. Dengan seragam rapi berwarna gelap, tubuh itu menoleh ke kanan dan kiri, lantas menatap tajam ke arah depan. Matanya sejenak melotot melihat sosok-sosok yang ada di depannya.

Barisan inisial yang mendengar suara tembakan dari barisan belakang serentak menoleh. Semua yang melihat kebangkitan itu lantas terperangah. Sesaat setelahnya, mereka kembali menghadap ke arah depan dan tertunduk lesu. Keringat dingin berleleran membasahi wajah-wajah mereka. Semua diam tanpa kata dan mengernyit.

Sosok tubuh yang telah bangkit dari peti mati itu kemudian tersenyum. Pandangan matanya mulai meredup untuk beberapa saat. Setelah terdiam beberapa saat, tanpa diduga ia berteriak dengan lantang.

MAJUUU JALAN!

Barisan yang tertunduk kemudian kembali tegap. Langkah-langkah barisan inisial itu lantas kembali berderap yang kemudian hilang dalam senyap. 

Sementara kau masih terus memegangi kepalamu yang terasa nyeri akibat gelegar tembakan tadi. Hingga tanpa kau sadari suara-suara itu sudah tidak terdengar lagi.  Ketika telah mampu mengendalikan diri, kau pun bicara dalam hati.  “Mungkin saja pawai inisial itu telah pergi. Masuk dari telinga kanan lantas keluar dari telinga kiri.”

Sekarang kau pun bisa menghirup udara dalam-dalam dan menghela nafas panjang. Dari mulutmu terdengar suara desah yang lelah.

Namun, tak lama kau pun tersadar, memegang kepala dan berkata. “Atau sebaliknya, mereka masih di sini, sembunyi?! Aaakh..”

MATAMU TERTUTUP….

Yogyakarta, 12 Agustus 2022


Bionarasi:
Seno Kardiansyah merupakan akademisi yang menggeluti ranah sastra, budaya dan terjemahan. Selain mengajar dan meneliti, waktu luangnya banyak digunakan untuk membaca dan menulis. Saat ini ia dan rekan-rekan lainnya tengah mengembangkan platform Literation.id sebagai wadah alternatif bagi para peminat literasi untuk terus berkontribusi dan menyalurkan hasil proses kreatifnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *