Perpustakaan Malam

Oleh: Yoan Sinaga

Mungkin lebih baik aku menghilang saja, gumam anak perempuan itu lirih. Kalau aku tenggelam malam ini pun, semuanya akan selesai bukan?


Anak perempuan itu telah melangkah terlalu jauh dari tempat yang dulu ia sebut rumah. Tempat yang pernah membungkusnya dalam hangatnya cinta keluarga. Dulu, ia bahagia, tumbuh dalam pelukan seorang ibu yang menyayangi sepenuh hati. Namun malam ini, makna rumah baginya telah berubah sepenuhnya.

Sejak kepergian sang ibu, dunia kecilnya runtuh. Ia hanya tinggal berdua bersama ayah tiri yang awalnya ia percaya. Sosok yang sempat ia anggap sebagai pengganti figur ayah yang tak pernah ia kenal. Tapi waktu menunjukkan wajah lain. Ayah tirinya berubah semenjak ibunya pergi. Perlakuan buruk datang silih berganti, merampas sedikit demi sedikit rasa aman yang tersisa.

Dan semalam adalah titik terendah dalam hidup anak perempuan itu. Malam saat sang ayah tiri mengusirnya. Seorang anak, di usia yang belum seharusnya mengenal gelapnya dunia, dipaksa mengalami situasi yang bahkan tak ia mengerti sepenuhnya. Mau ke mana lagi aku… Aku nggak tahu lagi harus ke mana…

Seorang anak perempuan menangis, sendirian, di bawah langit yang mulai menunjukkan tanda-tanda hujan. Ia menengadah dan berbisik lirih, Tolong… siapa saja…


Tiba-tiba, terdengar suara lonceng berdenting. Anak perempuan itu menoleh ke belakang. Dilihatnya sebuah perpustakaan kecil berdiri sunyi, dengan seorang pria tinggi berambut cokelat berdiri di ambang pintu. Ia memegang payung, dan di atas pintu tergantung sebuah lonceng kecil yang masih bergoyang pelan.

Nggak mau masuk ke dalam saja? Di luar sepertinya akan hujan,” kata pria itu dengan suara lembut. Benar saja, gerimis mulai turun. Anak perempuan itu hanya terdiam dalam lamunan.

Anehnya, perpustakaan itu tampak hangat, bahkan dari luar. Cahaya lampu yang memancar dari dalam seakan membuatnya lupa akan kelamnya malam yang sejak tadi ia hadapi. Kesedihan yang menyelimuti hatinya perlahan memudar, tergantikan oleh rasa tenang yang entah dari mana datangnya. Tanpa ragu, ia pun melangkah masuk ke dalam perpustakaan itu yang, entah kenapa, tiba-tiba ada di hadapannya dan buka di tengah malam.

Suara lonceng berdenting pelan saat pintu terbuka. Anak perempuan itu melangkah masuk. “Halo, selamat datang,” kata pria itu, wajahnya menunjukkan usia pertengahan dua puluhan, dengan senyum hangat yang menyambut tanpa banyak tanya. “Suka baca buku apa? Nanti saya bantu carikan,” lanjutnya sambil duduk dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Anak perempuan itu masih diam. Menunduk. Matanya perlahan mengamati sekeliling. Perpustakaan itu kecil, tapi terasa seperti rumah. Hangat. Penuh rak-rak buku yang seakan menyimpan cerita lebih dari sekadar kata-kata. Penuh dengan kenangan, jejak langkah orang-orang yang datang dan pergi. Dan untuk sesaat, anak perempuan itu merasa… tidak sendirian.

Pria itu seakan menyadarinya, bahwa yang ia butuhkan memang membiarkan anak perempuan itu menjelajahi perpustakan dengan sendirinya. Pria itu duduk dan kembali membuka buku yang ada di mejanya. Sementara itu, anak perempuan itu mulai berkeliling. Langkahnya pelan, rak demi rak ia lewati, matanya menyapu judul-judul dari topik yang beragam; sejarah, fiksi, puisi, mimpi.

Sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah papan kecil yang menandai bagian rak yang berbeda dari yang lain. Papan itu bertuliskan: ‘Rak Nama.

Rak itu dipenuhi dengan buku-buku tipis. Masing-masing hanya bertuliskan satu nama di sampul depannya. Seperti identitas yang dirangkum menjadi sebuah kisah. Ia menatap satu per satu, jari-jarinya menyusuri huruf-huruf pada punggung buku. Lalu ia terhenti…

Tangannya gemetar ketika menarik satu buku yang terasa berbeda dari yang lain. Sampulnya berwarna biru pudar, dengan satu kata tertulis di sana: ‘Alya.

Alya. Nama anak perempuan itu sendiri. Ia membuka buku itu perlahan. Ada sesuatu dalam hatinya, sebuah firasat samar, yang mengatakan bahwa buku ini memang ditulis untuknya. Tentangnya. Ia ragu. Takut.

Halaman demi halaman awal hanya berisi kertas kosong. Tak ada nama penulis. Tak ada penerbit. Tak ada daftar isi. Kosong. Seolah buku itu belum sepenuhnya jadi, menunggu sesuatu, atau seseorang, untuk melengkapinya. Jari-jarinya terus membalik halaman. Sampai akhirnya, ia menemukan satu kalimat, dengan tinta biru bertuliskan Alya, namaku.

Tangannya berhenti. Matanya terpaku.


Benar saja. Itu adalah kisahnya. Halaman demi halaman merekam hidupnya sejak awal. Saat ia lahir ke dunia, saat ia belajar berjalan dengan tertatih sambil dituntun tangan ibunya, saat ia tertawa di antara pasir pantai dan suara ombak bersama keluarganya.

Lalu, perlahan, kisah itu berubah menjadi gelap. Tulisan-tulisan itu menjadi lebih berat, malam-malam yang sepi, suara yang meninggi, dan hari ketika harga dirinya dihancurkan oleh ayah tirinya. Setiap kata terasa seperti luka yang dibuka kembali, tapi juga seperti pengakuan yang selama ini tak pernah ia ucapkan. Sesuatu yang selama ini hanya ia simpan sendiri.

Ia terus membaca. Dan sampai di halaman terakhir, matanya membelalak pelan. Tertulis di sana: Malam ini, aku menemukan perpustakaan kecil di tengah kota yang asing. Aku menangis. Tapi pintunya terbuka. Aku masuk. Tangannya gemetar saat membalik halaman berikutnya.

Kosong.

Begitu juga halaman selanjutnya. Dan selanjutnya. Lembar demi lembar putih… seperti ada yang ditunggu. Ia memandang ke arah pria di meja. Pria itu hanya tersenyum kecil, tanpa berkata apa-apa, seolah mengerti bahwa sisanya… kini terserah Alya.

Alya melangkah menuju meja tempat pria itu duduk. Entah mengapa, dalam hatinya ia tahu, pria itu sedang menunggunya. Dan memang benar. Saat Alya berdiri di hadapannya, pria itu menyodorkan sesuatu, sebuah pena sederhana berwarna hitam. “Tulislah kelanjutan ceritamu,” katanya lembut. “Buatlah jadi indah. Jangan menyerah.”

Alya menggenggam pena itu erat, dan untuk pertama kalinya, Alya tersenyum.

Ia melangkah menuju pintu. Saat ia membukanya, sebuah cahaya dari luar langsung menyilaukan matanya, langit telah berubah. Tidak lagi mendung. Tidak lagi gelap. Dunia, meski masih asing, kini tampak sedikit lebih terang. Ia menoleh ke belakang. Tapi perpustakaan itu… telah menghilang. Tak ada jejak. Tak ada lonceng. Hanya dirinya dan sedikit cerita di perpustakaan.


Bionarasi:
Yoan Meyral Sinaga, lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara, pada 26 Mei 2003. Ia telah memiliki ketertarikan pada seni, khususnya menggambar dan bercerita, sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Inggris, Universitas Teknokrat Indonesia. Selama masa perkuliahan, ia terus menekuni hobinya dalam menciptakan konten untuk media sosial, seperti video, gambar, dan karya sastra—salah satunya dimuat dalam buku ini. Untuk melihat karya-karyanya lebih lanjut, kunjungi Instagram-nya di @yoosinagaa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *