Pisang Goreng Dan Anak Perempuan

 Oleh: Indri Anisa



Kami memapah Bapak, tetapi hanya aku yang didorong—dipaksa menjauh dan menyingkir. Jadi, aku mundur—membuntuti dari belakang dengan langkah kecil. 

Jangan ke tempat Tuan Ragnarok, Bapak! Lebih baik ke dokter.” Aku mengepalkan tangan, berteriak ketika tepat di depan sana tampak rumah sederhana yang berbatasan dengan hutan bambu. Dinding papannya menghitam diwarnai arang, tanaman merambat sampai ke atap, di sudut atas kanan ada burung hantu yang dipelihara, bau kemenyan dan dupa menyengat. Tak lama asap mengepul dari jendela dan lubang ventilasi.

Tahu apa kamu, Rin! Anak perempuan diam saja. Tidak lihat Bapak sudah kesakitan ini. jangan banyak omong kamu, heh!” Bapak terengah, ia kembali dipapah oleh Tio.

Aku tidak bisa berbuat apa selain menyaksikan dari jendela luar.

Kedua kaki Bapak memerah dan melepuh—mirip daging yang direbus. Kulit kaki Bapak yang mengelupas justru digosok kuat dengan garam kasar, Bapak menjerit sakit. Kemudian, dukun tersebut mengoles semacam arang dari perapian bekas sajen, Bapak tergugu pilu. Tidak berhenti di situ, kaki Bapak masih harus disembur air kembang bekas kumur-kumur dukun—setelahnya Bapak pingsan, entah karena menahan sakit atau merasa jijik.


Beberapa hari ini Bapak berdiam diri di rumah, dan Ibu menggantikan pekerjaan di ladang. Jadi, aku harus pulang tepat waktu. Karena banyak pekerjaan yang menunggu.

“Aku pulang!” seruku sembari meletakkan sepatu di rak dan melangkah masuk. Aku menghela napas. Mainan milik Tio berserakan, bekas gelas dan piring kotor menumpuk, sekeranjang cucian, jemuran yang masih menggantung padahal sudah pukul empat sore, dan …

Bapak! Tio bawa belut!” Bocah berusia 10 tahun itu muncul dengan tubuh bermandikan lumpur, tanpa rasa bersalah menginjak lantai rumah, meninggalkan jejak kubangan lumpur dan air amis yang menetes.

Tio! Prasetyo Adipta! Kalau kakinya kotor lewat belakang. Kamu enggak tahu rasanya nyikat lantai yang kotor, jadi tolong jangan nambah pekerjaannya Mbak, dong!” Aku berteriak dengan bibir bergetar, wajah merah padam, dan buku jari memutih karena terkepal erat.

Plak! 

Pukulan renyah itu mendarat pada wajahku. Sunyi sesaat, lalu perih mulai menjalar. Aku bergeming, lalu tertunduk menatap lantai dengan pikiran kacau. Apa itu barusan? Batinku bertanya pedih, rasa sakit mematahkan hatiku dan membius setiap sendi-sendi tubuh.

HEH! Berani kamu bentak Tio, hah? Jadi saudara bukannya mengalah dengan adiknya malah dimarah-marah. Jangan enggak tahu diri, ya, kamu Rini! Dia ini bakal jadi penerus keluarga kita, dia yang bakal melindungi kamu di masa depan, dia yang bakal mengurus bapak dan ibu di masa tua. Jadi kamu enggak berhak bentak putra saya.” Bapak keluar dari bilik kamar, dengan kaki pincang ia memukulku tanpa bertanya duduk masalahnya. Ia hanya menghakimiku seorang. Apapun perseteruannya maka akulah yang harus salah dan mengalah.

Aku menatap dua punggung lelaki yang mengecil dan menjauh. Seakan tak terjadi apa-apa, mereka pergi dengan mulut tertawa riang, membawa belut tak seberapa itu ke belakang rumah.


Purnama bersinar terang di langit gelap, bintang-bintang berpendar dan hembusan angin malam nan tentram. Kami duduk bersama di meja persi yang telah tersaji beberapa makanan, salah satunya belut goreng yang didapat Tio. Bapak dengan bangga membagikan cerita itu pada Ibu. Ibu merespon dengan senang. Aku menoleh pada karung mainan Tio, di dalam situ ada beberapa pialaku. Hasil perjuanganku memenangkan kompetisi. Namun, bukannya dihargai, Bapak justru menertawakan. Katanya itu hanya seonggok plastik yang tidak ada bedanya dengan mainan Tio.

Kamu jangan makan belut ini!” Pria paruh baya itu menunjuk wajahku dengan sendok, lalu menarik lauk dari jangkauanku

Bapak, kenapa, ih?” Ibu memukul pundak suaminya.

Salah anak perempuanmu itu. Suruh siapa dia bentak-bentak Tio yang bawa belut.” Bapak meletakkan beberapa potong belut ke piring Ibu dan Tio. Aku hanya meremas sendok, dan menahan lelehan air yang mengumpul di pelupuk

Meja makan itu hening. Tidak ada satupun yang bersuara. Ibu mengelus tanganku dari bawah meja. Menyuruhku bersabar. Terkadang aku tak paham mengapa bapak memperlakukan aku begitu berbeda. Aku bertanya mungkin, kah aku anak pungut? Tapi tetangga desa ini bahkan menyaksikan kelahiranku. Jadi, tidak mungkin aku bukan anak kandung bapak. 


Hari minggu itu menyebalkan. Aku tidak sekolah dan harus seharian di rumah.

Akhir-akhir ini kamu sering pulang telat!” Bapak menonton televisi dengan serius, tangannya menggenggam remot erat—ganti-ganti saluran kesukaannya. Sedangkan aku duduk lesehan bersama Tio. Bocah tersebut kembali mengacak-acak mainannya bak orang kehilangan akal bahkan melempar-lempar medaliku seakan itu batu kerikil. Entahlah, bagaimana bisa bapakku bersikap begitu keras padaku, tetapi justru lunak pada anak lelakinya, aku khawatir Tio justru jadi bajingan di masa mendatang.

Maaf, Bapak. Sebentar lagi ujian kelulusan. Jadi, banyak tugas yang harus dituntaskan untuk memenuhi syarat kelulusan.” Aku menunduk kaku, tak berani bergerak seincipun—fokus memetik kangkung.

CK!” Bapak berdecak sinis, entah sebal karena jawabanku atau tayangan tv yang tidak bagus. “Setelah lulus smp akan ke mana kamu? Jika belum jelas ikut ke pabrik saja. Dari pada kamu menghabiskan uang untuk sekolah yang belum tentu sukses, lebih baik mencari nafkah sebelum kamu dilamar orang.

Aku masih smp,” ujarku dingin.

Apa salahnya? Toh, memang anak perempuan cuma tahu menikah dan diambil orang,” cemooh Bapak.

Nahhh matang, nih, pisang goreng ala Ibu Marti.” Ibu datang dengan sepiring pisang goreng berwarna kuning keemasan, panas dan harum. Sontak aku berhenti memetik kangkung, beralih mendekat pada nampan yang diletakkan tepat di meja. Tanganku sudah meraih pisang goreng— siap memasukkan ke mulut, tapi …

Ekhm! biasakan beri adikmu dulu, lihat Tio belum duluan, tapi kamu sudah main comot.” Teguran Bapak menghentikanku, tapi aku masih belum melepaskan pisang goreng dari tangan.

Ehh, iya, maksud Bapak, tuh, seorang kakak harus perhatian pada adiknya, iya, kan?” Ibu tersenyum meringis, beliau berusaha mencairkan suasana, mendekat dan menarik tanganku untuk menyuapi Tio dengan pisang yang aku pegang dari tadi.

Aku menatap Bapak dalam, tapi beliau bergeming. Membiarkan Ibu menarik tanganku agar menyuapi Tio. Sedangkan Tio hanya tersenyum polos dengan mulut terbuka.

Tio bisa ambil sendiri! Ini biar aku yang makan.” Aku menarik tangan kembali, Tio bengong— menutup mulutnya. Bapak melotot, kumisnya berkedut mendengar aku membantah, sedangkan Ibu sudah mencubit pinggangku.

Kamu ini memang pembangkang! Bukannya mengalah pada adik sendiri, justru mementingkan keinginan send—“ terlambat, aku sudah mengemplok pisang itu sekali suap. Mulutku penuh dan hampir muntah.

Aku telah bertekad, jika aku tidak berani memperjuangkan keinginanku maka sampai kapanpun aku hanya anak perempuan yang tidak terlalu dianggap. Ini bukan sekadar pisang goreng yang harus diberikan kepada adik sebagai bentuk kepedulian dan kasih sayang seorang kakak. Ini adalah momen pertamaku melawan kehendak Bapak. 

Kurang Ajar! Kau—“ Bapak menunjuk wajahku dengan remot, tangan beruratnya tampak mengerikan.

Namun, sekali lagi aku mengambil pisang dan mengemplok sekali hap. Aku menelannya dengan susah payah. “Ouh iya, aku belum menjawab pertanyaan Bapak. Aku akan lanjut SMA, lalu sarjana, magister, dan doktor. Aku akan terus sekolah sampai kepalaku gundul, tulangku kropos, dan mataku buta. Aku juga akan bekerja di gedung tinggi—tinggi sekali sampai mendongak pun bapak tak bisa melihatku, aku akan terus menghasilkan uang sampai usia senja dan tutup usia,” celotehku seperti orang gila. Aku terengah dengan pelupuk mata yang kian berair. “aku juga akan wafat dengan gelar panjang di belakang namaku. Aku juga akan dikubur dengan tumpukan buku dan kertas-kertas penelitian.

HEH! Anak tidak tahu diuntung! Jangan mimpi terlalu tinggi. Memang siapa yang akan membiayai semua itu, hah? Saya? Tidak sudi, cuih!” sembur bapak.

Ruang tengah itu gaduh, dan mungkin tetangga sudah menguping.

Sekali lagi aku meraup pisang goreng—mengemplok dengan semangat. Kali ini aku semakin pandai menelannya.

Bapak tadi mengatakan aku pembangkang, maka akan aku kabulkan doa itu. Aku akan menjual semua sawah Bapak untuk dana pendidikanku, jika masih kurang aku akan jual rumah ini, rumah nenek, seluruh kambing Bapak, dan jika masih kurang aku tak akan segan menggadaikan Tio untuk jadi pesuruh  Tuan Ragnarok,” suaraku mengeras walau keringat dingin di punggung tangan. “Jika bapak tidak rela memberikan yang terbaik kepada anak perempuanmu hanya karena di kemudian hari ia akan diambil keluarga lain maka jangan khawatir. Aku akan jadi perawan tua. Jadi, Bapak tidak perlu cemas jika mewarisi harta untukku. Karena aku tidak akan berbagi dengan suami apalagi anak. Selamanya … seumur hidupku aku akan jadi anak Bapak saja.

K-kau!” Bapak tampak kaget, ia melotot seakan ingin melubangi kepalaku. 

Aku menyeruput kopi Bapak sampai tandas. Membantingnya di meja, mengelap bibir dengan tampang berandalan. Tidak ada wajah ayu pendiam nan pemalu. Sekarang aku lebih mirip preman pasar yang mangkal untuk pungutan liar.

Terima kasih untuk pisang goreng dan kopinya, Ibu. Ternyata enak juga makan pisang yang masih hangat dan utuh tanpa remahan tepung.” Aku keluar rumah. Berjalan ke arah hamparan sawah di belakang.  Di belakang bapak hampir pingsan dan ibu yang menjerit.

Demi Tuhan, ini bisa jadi awal yang baik atau akhir hidupku. Aku kerasukan, ya, benar! Aku kerasukan arwah pendendam.” Aku berjongkok meremas rambut.


Bionarasi:

Membangun cerita pendek sebagai cermin sosial. Saya Indri Anisa, mahasiswa Universitas Lampung angkatan 2024. Saya gemar menulis berbagai cerita mulai dari novel pada aplikasi menulis online, aktif membuat cerpen, fiksi mini dan quotes pada laman instagram. Dalam hidup saya terdapat satu moto yang saya yakini, yaitu setiap keputusan adalah tanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *