Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

SI PEMILIK KAOS ABU-ABU
Mendung datang membawa uluran,
menarik lenganku perlahan,
menyeretku pada langit jingga
yang belajar bernapas
tanpa benar-benar hidup
Langit menggigit bibirnya sendiri,
Menyisakan yang tak pernah singgah.
Daun-daun bunuh diri,
Padahal musim belum sempat
mengajari mereka tentang mati.
Tanah memanggilku dengan sabar
Sapuan angin menjadi saksi bisu
yang tak pernah belajar mempertahankan.
Sore itu mengendap di kepalaku,
Detik kulempar layaknya bola,
Namun aneh,
tawamu lebih lihai
ia tak pernah mau jatuh
Kaos abu-abu itu menggantung
di langit yang menyisakan residu
rindu berkarat di dalamnya.
Dan aku
menjadi rumah
bagi sesuatu
yang terus dipanggil pulang.
KAMAR KOST
Sore itu turun tanpa suara,
menyelimuti gang Azalea yang kini asing:
tiada lagi angin berdesir,
bahkan tirai pink di jendela kost itu
tak bergerak memanggilku kembali.
– Semua diam –
Sementara aku?
aku larut di dalamnya,
seperti orang yang lupa caranya pulang.
Meja coklat kecil dekat ranjang.
segelas air bening berdiri tanpa rasa –
dan entah sejak kapan,
aku serupa dengannya:
mengisi ruang,
tanpa benar-benar hadir
Canda tawa kamar sebelah terdengar samar,
padahal dinding kami hanya seukuran lengan.
Barangkali aku yang menjauh –
bukan mereka.
Lantai dingin menampung bayang-bayang
panjang yang merayap tanpa arah.
Aku duduk –
menatap keramik lantai yang mulai retak.
Sampai hampa itu tumbuh berderak,
lantas menelan semua
yang pernah berdenyut dalam diriku.
Tiada lagi nama untuk perasaan ini.
Tiada lagi yang cukup dekat — untuk
Kusalahkan.
Hanya kehampaan yang menetap,
jadi tamu paling lawas,
di kamar kost kota Metro,
yang kian lama – kian luas
Setiap kali aku:
Kehilangan
Bagian Kecil
Dari Diriku Sendiri.
Dan aku tetap diam!
Lebih diam
dari apapun
yang pernah kucintai.
Disebut Dalam Amin yang Sama
Dia bilang,
terang adalah daku, gelap adalah dikau;
lalu senyap menjelma burung-burung abu
yang bertebaran di langit kepalaku.
Sedang aku memungut satu-satu suaramu,
menjadikannya pelita
bagi lorong batin yang lama kehilangan bingkai langit.
Kau tahu?
aku jatuh pada seorang pemeluk lonceng,
lelaki yang membaca retakku
seperti mazmur yang nyaris hangus di ujung doa.
Di matanya, luka-lukaku tidak pernah tampak hina;
ia merabanya perlahan,
seolah tiap dukaku adalah ayat
yang perlu diselamatkan dari sepi.
Namun semesta terlalu pandai mencipta jarak.
Lonceng gerejamu terus berdenting di dadaku,
sementara sajadahku gemetar menyebut nama Tuhan.
Kita saling mencintai seperti hujan dan bara,
berdekatan untuk saling memeluk,
saling menetap di dalam doa,
namun tak pernah benar-benardisebut dalam amin yang sama.
Bionarasi:
Halo, namaku Laura Masyitha Alya Nurdiyono. Bagiku, menulis adalah cara memahami hal-hal yang kerap luput diucapkan, tentang rumah, jarak, dan cara-cara sunyi manusia saling menjaga. Kata demi kata menjadi ruang titik balik, sekaligus tempat bertanya. Saat ini, aku adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia yang terus belajar merawat rasa melalui sajak puisi sebagai bagian dari perjalanan memahami diri dan kehidupan.