Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
(O. Henry, 1906)
Diterjemahkan dari cerpen berjudul ” After Twenty Years“ oleh Margareta Alinsi
Cerpen terjemahan ini tergabung dalam kumpulan cerpen terjemahan Inggris-Indonesia berjudul “Kisah Satu Jam: Antologi Cerpen Terjemahan Kesusastraan Inggris” terbitan Literation tahun 2026

Polisi yang berjaga malam itu berjalan menyusuri jalan dengan wibawa. Wibawa itu bukan dibuat-buat, hanya kebiasaan, sebab hampir tak ada orang yang melihat. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh malam, namun hembusan angin dingin yang terbawa hujan membuat jalan-jalan kosong. Tubuhnya yang tegap, langkahnya yang mantap, membuatnya tampak seperti penjaga kedamaian sejati. Kawasan itu memang terbiasa tidur lebih awal.
Sembari memeriksa pintu-pintu toko, sang polisi tiba-tiba memperlambat langkahnya. Di ambang sebuah toko perkakas yang gelap, seorang pria berdiri dengan cerutu tak menyala di mulutnya. Ketika polisi mendekat, pria itu buru-buru berbicara.
“Tak apa, Pak Polisi,” katanya menenangkan. “Saya hanya menunggu seorang teman. Ini janji yang dibuat dua puluh tahun lalu. Kedengarannya aneh, ya? Kalau perlu memastikan semuanya beres, akan saya jelaskan.”
“Dua puluh tahun yang lalu,” lanjut pria itu, “di tempat toko ini berdiri dulu ada sebuah restoran—Big Joe Brady’s.”
“Hingga lima tahun lalu,” jawab polisi. “Setelah itu dibongkar.”
Pria di ambang pintu menyalakan cerutunya. Cahaya korek memperlihatkan wajah pucat berahang persegi, mata tajam, dan bekas luka kecil di dekat alis kanannya. Penjepit dasinya bertatahkan berlian besar, terpasang dengan aneh.
“Dua puluh tahun yang lalu tepat malam ini,” katanya, “aku makan malam di Big Joe Brady’s bersama Jimmy Wells, sahabat terbaikku—orang paling baik yang pernah kukenal. Kami tumbuh di New York seperti dua saudara. Aku delapan belas, Jimmy dua puluh. Esok paginya aku akan pergi ke Barat mencari peruntungan. Jimmy tidak bisa dibujuk keluar dari New York—baginya, ini satu-satunya tempat di dunia. Malam itu kami sepakat untuk bertemu kembali di tempat ini, tepat dua puluh tahun kemudian, apa pun keadaan kami dan sejauh apa pun perjalanan yang harus ditempuh. Kami pikir, dalam dua puluh tahun nasib kami pasti sudah terbentuk.”
“Menarik juga,” kata polisi. “Tapi waktu yang panjang untuk janji temu. Sejak pergi, kau pernah mendengar kabar dari temanmu itu?”
“Ya, untuk beberapa waktu kami saling berkirim surat,” jawabnya. “Tapi setelah setahun atau dua tahun, kami kehilangan jejak. Kau tahu, wilayah Barat luasnya luar biasa, dan aku sering berpindah-pindah. Tapi aku yakin Jimmy akan datang kalau dia masih hidup. Dia sahabat paling setia yang pernah ada. Dia tak akan lupa—aku menempuh ribuan kilo untuk berdiri di pintu ini malam ini, dan itu sepadan kalau sahabat lamaku muncul.”
Pria itu mengeluarkan sebuah jam mewah, tutupnya berhiaskan berlian kecil.
“Tiga menit lagi pukul sepuluh,” katanya. “Kami berpisah tepat pukul sepuluh di depan pintu restoran itu.”
“Kelihatannya kau cukup berhasil di Barat, ya?” tanya polisi.
“Sudah pasti! Kuharap Jimmy setidaknya separuh berhasil dari pencapaianku. Dia tipe pekerja tekun, meski ia polos. Aku harus bersaing dengan otak-otak paling tajam untuk mengumpulkan kekayaanku. Hidup di New York membuat seseorang berjalan di rel yang sama. Baratlah yang mengasah seseorang tajam seperti pisau.”
Polisi itu memutar pentungnya dan melangkah pergi.
“Aku lanjut patroli. Semoga temanmu datang. Kau akan menepati waktunya dengan ketat?”
“Tidak, tentu tidak! Akan kutunggu setengah jam. Jika Jimmy masih hidup, dia pasti datang. Sampai nanti, Pak Polisi.”
“Selamat malam, Tuan,” kata polisi itu sambil berjalan menjauh, tubuhnya menghilang ke dalam bayangan.
Sekitar dua puluh menit berlalu. Kemudian seorang pria tinggi dengan mantel panjang dan kerah terangkat menyeberang jalan dengan tergesa menuju pria yang menunggu itu.
“Itu kau, Bob?” tanyanya ragu.
“Itu kau, Jimmy Wells?” seru pria di ambang pintu.
“Ya Tuhan!” seru pria yang baru datang itu, menggenggam kedua tangan Bob. “Benar-benar Bob, tak diragukan lagi. Aku yakin akan menemukanmu di sini kalau kau masih hidup. Wah, dua puluh tahun adalah waktu panjang. Restoran lama itu sudah hilang, Bob; andai saja masih ada.”
“Tak apa,” kata Bob. “Sayang memang. Ayo kita pergi ke tempat yang kukenal, kita bisa bicara panjang lebar soal masa lalu.”
Keduanya berjalan berangkulan. Pria dari Barat, dengan penjepit berlian itu, berbicara bangga tentang perjalanan hidupnya. Yang satu lagi, tersembunyi dalam mantelnya, mendengarkan dengan saksama.
Di sudut jalan berdirilah sebuah apotek terang benderang. Ketika mereka memasuki cahaya lampu itu, keduanya serempak menatap wajah satu sama lain.
Pria dari Barat berhenti mendadak, melepaskan lengannya.
“Kau bukan Jimmy Wells,” katanya tajam. “Dua puluh tahun waktu panjang, tapi tak sepanjang itu untuk mengubah hidung seseorang dari mancung jadi pesek.”
“Terkadang dua puluh tahun cukup untuk mengubah orang baik menjadi buruk,” kata pria tinggi itu. “Kau sudah ditangkap sejak sepuluh menit lalu, ‘Silky’ Bob. Chicago ingin berbicara denganmu. Mau ikut dengan tenang? Bagus. Sebelum ke kantor polisi, ini ada sepucuk surat yang diminta seseorang untuk kusampaikan. Bacalah di depan jendela ini. Dari Polisi Wells.”
Bob membuka kertas itu. Tangannya bergetar, wajahnya memucat.
Isi surat itu berbunyi: “Bob: Aku datang tepat waktu. Ketika kau menyalakan korek untuk cerutumu, kulihat wajah seorang buronan Chicago. Aku tak sanggup menangkapmu sendiri, jadi aku memanggil polisi berpakaian sipil untuk melakukannya. — Jimmy.”
Bionarasi Penulis:
O. Henry (11 September 1862 – 5 Juni 1910) adalah nama pena dari William Sydney Porter, seorang penulis cerita pendek Amerika Serikat yang sangat terkenal. Ia dikenal sebagai master cerita pendek yang meromantisasi kehidupan orang-orang biasa di New York City dengan gaya bahasa yang jenaka dan menyentuh.
Bionarasi Penerjemah :
Margareta Alinsi, lahir pada tanggal 28 Juni 2005. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Program Studi Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia. Sejak sekolah dasar, Margareta telah menyukai menulis dan membaca. Ia juga menyukai traveling dan menjelajahi tempat-tempat baru. Margareta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, yang mendorongnya untuk selalu belajar hal-hal baru dan mencari pengalaman dalam hidup.